LHOKSUKON Masyarakat terutama kaum ibu di Aceh Utara merasa resah dengan merebaknya isu penculikan anak. Sebagian orang tua mulai membatasi ruang gerak anaknya bermain. Bahkan, ada yang mulai melarang anaknya pergi mengaji, apabila tidak ada yang antar jemput.
Saya takut sekali dengan kabar penculikan anak itu. Apa benar itu ada? Apa benar organ tubuh diambil untuk dijual secara ilegal? Akibat kabar itu, saya sampai tidak nyenyak tidur. Hari ini saja, anak-anak tidak saya izinkan pergi mengaji. Soalnya tidak ada yang antar jemput, ujar Zikra, 36 tahun, istri pengusaha resto dan kafe di Lhoksukon kepada portalsatu.com, Selasa, 21 Maret 2017.
Mawarti, 35 tahun, ibu muda asal Kampung Baru, Lhoksukon, juga merasa was-was dengan isu tersebut. Sekarang saya sangat khawatir. Saya selalu mewanti-wanti anak saya untuk tidak ikut atau mendekati orang yang tidak dikenal. Jika ada orang asing yang ajak bicara, saya minta abaikan saja dan pergi menjauh. Saya juga bilang jangan main di tempat sepi, katanya.
Isu itu juga membuat Mawarti merasa curiga saat melihat pengemis. Jika lihat pengemis, baik itu laki-laki atau perempuan, jadinya curiga. Begitu juga jika ada laki-laki lusuh yang mencari barang rongsokan. Kabar penculikan anak ini benar-benar membuat hati tidak tenang dan gelisah. Apalagi sampai dikabarkan organ tubuhnya dijual, ucap Mawarti.
Jika memang kabar itu benar, kita minta pihak kepolisian turun tangan. Kadang bingung juga, soalnya saya baca di Facebook, malah orang gila dan pengemis diamuk massa karena dikira penculik anak. Ada juga berita lainnya yang tersebar, penculik anak yang ditangkap. Mana yang benar? ibu dua anak itu bertanya.[]

