BANDA ACEH LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) Aceh melihat respon masyarakat terhadap isu penculikan anak lebih cepat dibandingkan kasus kekerasan seksual. Selama ini, korban kasus pemerkosaan malah kerap diabaikan.
Kasus penculikan marak diberitakan terutama di media sosial (medsos), mulai dari Facebook, WhatsApp, BBM dan lainnya. Semua mengecam dan marah. Semua orang bereaksi dan meminta pelaku segera ditangkap dan diproses. Media juga dengan cepat memberitakan kasus ini, ujar Roslina Rasyid, Ketua LBH APIK Aceh dihubungi portalsatu.com, melalui WhatsApp, Selasa, 21 Maret 2017.
Menurut Roslina, respon cepat menandakan bahwa masyarakat masih kuat rasa solidaritasnya untuk memberantas kejahatan.
Namun hal yang sama tidak terjadi pada kasus kejahatan lain, seperti halnya kekerasan seksual. Dalam banyak kasus kekerasan seksual, salah satunya pemerkosaan, korbannya justru kerap diabaikan, kata Roslina.
Malah lebih parah, lanjutnya, pelaku kekerasan seksual kerap dibiarkan melenggang bebas dengan alasan tidak cukup bukti untuk ditangkap.
Padahal kita semua tahu, hampir sebagian besar korban kasus kekerasan seksual adalah anak-anak dan perempuan. Kita tidak bereaksi. Kita diam tanpa ada tindakan dan dukungan untuk mencari kebenaran serta mengejar si pelaku untuk diproses hukum, ucapnya.
Itu sebabnya, ia menilai dalam dua kasus itu terlihat perbedaan sikap atau respon masyarakat luas. Sikap yang berbeda ini menandakan bahwa korban kekerasan seksual belum mendapat banyak dukungan dari negara dan masyarakat, pungkas Roslina.[]

