DI ujung Pulau Sumatera, dua orang mahasiswa Universitas Jantong Rakyat Aceh memacu sepeda motornya dengan santai sembari melirik kiri-kanan  menuju arah Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Namun sesampai di pintu gerbang masuk pelabuhan, mereka bukannya masuk, tetapi  membelokkan sepeda motornya ke kanan memasuki jalan bebatuan yang belum teraspal dan dipenuhi debu dan kerikil sekitar lima puluhan meter.

Panasnya terik matahari sore, tidak membuat mereka menyerah untuk melepaskan penat di akhir pekan. Ya, lokasi tempat wisata baru bagi masyarakat Kota Madani (sebutan untuk kota Banda Aceh), jalan lingkar yang menghubungkan Gampong Jawa (Pande)-Ulee Lheue, tepatnya di Gampong  Alue Deah, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Jalan dan jembatan yang sudah bisa dilalui sejak akhir 2015 lalu kini ramai dikunjungi wisatawan lokal untuk mengisi waktu libur akhir pekan. Bentuknya kecil dan berliku mengikuti pinggiran laut bila dilihat dari google maps. Pemandangan semakin memanjakan mata karena dihiasi dengan tambak yang berlatar Kota Madani di sebelah selatan dan Selat Malaka di sebelah utara, serta pemandangan kapal penumpang menuju Sabang menjadikan tempat ini cocok untuk dinikmati bersama keluarga. Di lautan tampak perahu nelayan yang sedang menunggu ikan untuk ditangkap, namun sesekali terlihat kapal penumpang membelah air menuju pelabuhan.

Di pinggir kiri dan kanan tampak bebatuan gajah yang diatur bak benteng perang zaman kuno sebagai tanggul pemecah ombak merupakan surga bagi para pemancing ikan karang. Rasa bosan setelah seminggu kuliah terbayar setelah memarkirkan sepeda motor di dekat para pemancing. Menurut Samsul, salah satu warga yang datang dari daerah Keutapang, Banda Aceh, ia sering datang ke tempat tersebut untuk memancing.

“Saya memancing cuma hari Minggu, karena hari lain saya bekerja,” paparnya seraya melempar mata pancing yang telah disangkut udang. Di sampingnya tampak beberapa  orang yang masih muda sedang memegang gagang pancing mereka masing-masing menunggu ikan menyambar umpan mereka.

Sengatan matahari sore dan angin sepoi-sepoi tidak menyurutkan langkah mereka melanjutkan perjalanan hingga mencapai sebuah jembatan yang tampak kokoh. Di sana terdapat mobil dan becak yang sudah dijadikan tempat jualan, baik itu somay, kacang, es blender, donat dan sebagainya, untuk memanjakan tamu yang hendak menikmati indahnya sore di hari libur kantor.

Proyek yang menghabiskan anggaran triliunan rupiah tersebut dimanfaatkan oleh sebagian pedagang untuk mengutip Rupiah di tengah ramainya pengunjung yang lalu-lalang. Menurut Amir, salah satu pedagang somai, ia sudah berjualan di tempat tersebut sejak 2015 lalu ketika jembatan tersebut baru bisa dilewati. “Saya jualan somai dari habis zuhur hingga magrib, biasanya yang banyak laku hari Sabtu dan Minggu.”

Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh salah satu pedagang bakpao yang tidak bersedia namanya di-publish, ia mengaku berjualan di tempat tersebut hanya sore hari. “Saya hanya jualan ke sini sore hari, kalau hari Sabtu dan Minggu mulai habis salat zuhur,” tuturnya seraya merapikan roti putih dalam rak kacanya.

Di sepanjang jalan juga terlihat mobil warga yang diparkir secara teratur, kendati  tidak ada tukang parkir, mereka memarkirkannya dengan rapi sehingga tidak mengganggu pengguna jalan lain yang hendak mencari tempat untuk berteduh.

Sebahagian mereka ada yang tampak mencari objek untuk berfoto-foto bersama keluarga, di lain sudut ada yang sibuk mencari tempat yang banyak ikan untuk memancing, ada pula yang hanya sekedar melintas untuk melihat keramaian.

Zaki, salah satu mahasiswa baru Perguruan Tinggi Swasta di Banda Aceh mengaku mengetahui tempat tersebut dari media sosial. “Saya lihat di foto BBM (Blackberry Messenger) kawan, saya penasaran makanya saya ke sini,” ceritanya sambil mengarahkan kameranya ke arah kapal penumpang yang baru tiba dari Pelabuhan Balohan Sabang.

Begitulah suasana akhir pekan di daerah yang dulunya hanya pinggiran laut dangkal kini telah disulap menjadi tempat wisata yang seolah-olah berada di jembatan tengah laut dengan sejuta keindahan yang dimilikinya.[]

Penulis: Zulfahmi, Peserta Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri, Angkatan III 2016