Ada kisah inspiratif dari pengusaha muda di Bireuen, Khairul Nazli (30). Dia bangkit lagi setelah tiga toko besar miliknya ditutup karena pandemi.
Dia pun membuka kedai Jameuen Kupi di Gampong (Desa) Cot Bada Baroh, Kecamatan Peusangan, Bireuen.
Kedai ini bernuansa zaman dulu yang klasik. Menu yang disediakan dan tempat dan ornamen-ornamennya dihiasi dengan khas zaman dulu.
Jika ingin menuju ke kedai ini, harus masuk jalan kampung sejauh sekira satu kilometer ke arah utara dari Jalan Banda Aceh- Medan.
Kedai itu jadi lapangan usaha. Kini ada delapan orang yang menjadi karyawan dengan gaji Rp 50 ribu per hari. Pendapatan tersebut dianggap wajar untuk sebuah tempat usaha yang baru dirintis selama sebulan.
Pemiliknya menggunakan konsep zaman dulu untuk kedai itu karena menurutnya orang mencari keunikan, dan dia benar.
Dia mengatakan bahwa pemasukan Jameun Kupi dari penjualan mencapai puluhan juta Rupiah perbulan. Bahkan penghasilan mencapai puluhan juta pada bulan pertama.
Usaha ini akan terus dikembangkan dengan ornamen khas zaman dulu, dilengkapi dengan menu-menu khas Aceh lampau, sehingga konsepnya benar-benar beda dengan yang lain.
Menjadi inovator, bukan ikut-ikutan orang lain. Walaupun baru dibuka setelah usahanya yang lain tidak berhasil, sebenarnya, ia telah mengimpikannya sejak tujuh tahun lalu.
Di kedai ini juga ada gambar-gambar bernilai sejarah. Dan alangkah lebih baik sekiranya kisah sejarah Bireuen yang pernah menjadi ibukota darurat RI disertakan referensi yang lebih banyak lagi.[]
Penulis: Salam Sahoet, seniman pendiri KrAN (Kreatif Aneuk Nanggroe).




