Setiap anak adalah istimewa.Itu kaidah yang lazim. Pun pada aslinya setiap anak membawa potensi baik-buruk yang bisa berkembang. Banyak tahapan dalam hidup anak yang dianggap urgen dan setiap tahapan hidupnya memiliki urgensi sendiri pula. Sebagaimana mereka juga berkembang dalam fase itu sesuai kemampuan dan kebiasaan rutin yang dilakukan. Sudah menjadi tugas murni “pendidikan” untuk menjaga fitrah baik dalam diri si anak.
Diantara pengaruh yang bisa mendominasi prilaku anak adalah kebiasaan. Lewat kebiasaan, sama halnya dengan latihan, si anak akan belajar untuk sampai pada pengertian dan konsep yang utuh tentang satu prilaku/ peristiwa tertentu.
Saat berinteraksi dengan anak, jangan lewatkan kebiasaan kebiasaan kecil berikut yang perlu bagi tumbuh-kembang nya.
Pertama, ajaklah ia berdialog. Yaitu dengan membangun percakapan awal dan lanjutan yang bisa menghidupkan suasana akrab atau mengerucut pada satu tema dan maksud. Berdialog juga dapat membangun rasa percaya dan rasa nyaman. Untuk tingkat dewasa awal , struktur dialog bisa lebih terstruktur seputar keseharian yang lebih luas.
Kedua,mendengarkan. Ini tampaknya sederhana, tapi sangat rumit. sebab, mendengar bukan semata memahami yang disampaikan. Tapi sepenuh hati mencerna maksud yang dibicarakan, mungkin ia hanya sekadar curhat, atau justeru ingin diakui dan didukung. Mendengar juga mesti dapat mengungkap empati dan simpati. Bahkan kita terlebih dahulu (banyak) mendengar baru kemudian belajar bicara .
Ketiga, meminta pendapatnya. Mintalah pendapat anak, bahkan untuk hal yang kecil seperti, kegiatan di akhir pekan.
Keempat, memberi pujian dan dukungan. Kapanpun, selalu sempatkan memuji dan mendukung si anak, tanpa mesti membesar besarkan pujian tersebut. Terutama, pujian dimaksudkan sebagai penguat sikapnya.
Kelima,menatap mata anak saat bicara dan merespon dengan bahasa tubuh yang positif. ini diperlukan untuk membangun rasa percaya dan saling mendukung.
Keenam, membiasakan dengan ucapan dan kalimat kalimat yang baik, seputar doa/zikir sehari hari, ucapan terima kasih, mohon, atau tolong dan maaf.
Ketujuh, menjadikan setiap peristiwa yang tampak di sekitar anak sebagai media untuk menyampaikan kebaikan, terutama bila si anak tampak siap untuk menyimak dan mengambil maknanya. Hal itu bisa berkaitan tentang ketauhidan, hukum atau sikap moral.[]
Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam.
Melayani Program seminar dan training untuk lembaga dan komunitas.




