Kemenangan Donald Trump dalam pilpres Amerika Serika (AS) menimbulkan polemik dan kekhawatiran. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyakini Trump tidak akan menjalankan politik proteksionis seperti yang disampaikan saat kampanye.

“Resikonya bisa membahayakan bagi Amerika kalo dia sangat proteksionis. Jadi Saya meyakini tindakannya beda dari kampanyenya,” ujar JK saat berbincang dengan wartawan di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Jumat (11/11/2016).

Dalam perpolitikan di Amerika, JK menyebut ada rumus pemilihan bahwa kampanye bisa berbeda dengan pelaksanaan. Dalam kampanye pilpres AS, Trump mengusung politik proteksionis yang didukung oleh oleh kelas-kelas pekerja, serta pembatasan imigran. 

“Itu artinya dia ingin lebih menjaga dari luar, mengurangi. Para pekerja senang pengangguran menurun,” ucapnya.

Namun, menurut JK, politik proteksionis yang dijalankan Trump juga akan mendapat pertentangan dari investor, khususnya yang berasal dari Timur Tengah. Jika isu Islamophobia tetap dijalankan, maka akan membuat investor meninggalkan AS. 

“Sama dengan China. Kalau proteksionis China tidak akan membeli bon Amerika. Kalau semua orang tidak mau membeli bon Amerika dollar langsung hancur.

“Tidak bisa seenaknya begitu. Orang tidak pegang dollar saja abis Amerika itu, inflasinya langsung naik,” tambahnya.

JK menambahkan, dampak terpilihnya Trump akan dirasakan oleh Indonesia jika politik proteksionis dijalankan oleh pemerintahan Trump. Ekonomi China dan Jepang akan terkena imbas dari politik itu.

“Ekspor kita ke China akan menurun pada waktunya,” ujarnya.[]Sumber:detik