BLANGKEJEREN – Pemerintah Gayo Lues merencanakan kembali perhelatan Tari Saman massal pada 13 Agustus 2017 mendatang. Kali ini, 10.001 penari akan dilibatkan. Anggaran yang dikucurkan juga tak tanggung-tanggun, mencapai Rp11 miliar. Angka yang terhitung fantastis untuk even tari tradisional. 

Informasi yang diterima portalsatu.com menyebutkan anggaran tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Gayo Lues. Selain itu, alokasi anggaran kegiatan ini juga berasal dari dana desa yang bersumber dari APBK.

Alokasi anggaran ini menimbulkan protes dari kalangan penduduk setempat. Salah satunya Ketua Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia atau GMNI Gayo Lues, Fadli. “Masyarakat di sini (Gayo Lues-red) sebagian besar keberatan dengan nominal anggaran itu,” kata Fadli kepada portalsatu.com, Minggu, 9 Juli 2017.

Dia menyebutkan pelaksanaan tari massal dengan menguras anggaran besar akan merugikan daerah. Apalagi even yang dilaksanakan ini hanya untuk seremonial semata. Padahal, kata Fadli, masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera ditanggulangi seperti kebutuhan air bersih dan peningkatan pelayanan masyarakat.

Ia juga menilai, pertunjukan tari saman massal yang dilaksanakan kali ini hanya bersifat menghamburkan uang rakyat. Di sisi lain, even ini juga dinilai sebagai bentuk pembodohan kepada masyarakat Gayo Lues.

“Itu anggaran besar, kalau dialihkan ke pemberdayaan akan ada puluhan masyarakat miskin yang akan bangkit. Ini bukan arti kita menolak pertunjukan Tari Saman itu, tapi anggarannya tidak masuk akal,” kata Fadli.

GMNI Gayo Lues merencanakan debat publik yang turut melibatkan unsur Forkopimda untuk membahas nominal anggaran pelaksanaan Tari Saman massal tersebut. Hal ini bertujuan agar masyarakat memahami tentang kinerja pemerintah saat ini dalam mengelola uang rakyat.

Di sisi lain, kata Fadli, hasil debat publik tersebut diharapkan dapat memangkas anggaran yang telah diplotkan untuk pelaksanaan Tari Saman massal. 

“Tahun 2014 lalu juga sudah dilaksanakan Tari Massal ini dengan melibatkan 5.005 penari. Kegiatan ini juga sudah mendapat rekor MURI dari UNESCO. Jadi kalau alasan untuk promosi wisata, saya rasa sudah cukup mumpuni,” ujar aktivis GMNI ini.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi, dan Kreatif Gayo Lues, Syafruddin, menyebutkan alokasi anggaran untuk kegiatan tersebut hanya sebesar Rp1,5 miliar. Syafruddin juga terkesan enggan mengomentari jumlah anggaran seperti yang disebutkan GMNI tersebut.

“Kalau mau lebih jelas ke pak Sekda saja langsung karena kalau di (Dinas) Pariwisata hanya kita alokasikan Rp1,5 miliar,” ujarnya.

Sementara itu, Sekda Gayo Lues, H. Thalib, saat dihubungi wartawan tidak menggubris panggilan masuk. Begitupun dengan pesan singkat yang ditinggalkan juga tidak mendapat respon.[]