“Pisang ayam (barangan) yang paling bagus 13 ribu (per sisir). Ada juga yang 10 ribu, kualitas nomor dua,” kata Nurmayanti, pedagang pisang di Pasar Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, saat melayani dua orang pembeli, Rabu, 30 Desember 2020, siang.

Nurmayanti alias Kak Yanti tampak memakai masker kain merah. Dua orang yang ingin membeli pisang tidak memakai masker. Seorang pedagang pisang yang lapaknya berdampingan dengan Kak Yanti, juga tanpa masker. 

Sebagian besar pedagang maupun pembeli di Pasar Pusong yang berada di kawasan pusat kota itu tidak memakai masker. Begitu pula hasil pantauan di Pasar Inpres Lhokseumawe. Saban hari selama pandemi ini hanya beberapa pedagang dan konsumen yang disiplin menggunakan salah satu alat pelindung diri (APD) pencegahan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) itu.

“Lupa bawa masker hari ini,” ucap pedagang pisang yang lapaknya berdampingan dengan Kak Yanti saat ditanya mengapa tidak memakai masker.

Alasan sama diucapkan sejumlah pedagang lainnya. Ada pula yang mengaku membawa masker tapi tidak memakainya dengan dalih merasa kurang nyaman jika memakai masker terus menerus, pagi sampai siang, apalagi hingga sore.

Lantas, mengapa Kak Yanti tetap memakai masker? “(Karena) takut kena covid,” ujar perempuan 45 tahun itu.

“Kalau sudah kena kan tidak bisa jualan, tambah susah. Katanya (apabila menderita Covid-19), kalaupun tidak sampai dirawat di rumah sakit, harus isolasi mandiri 14 hari di rumah. Mau makan apa anak-anak kalau saya tidak jualan,” tutur warga Desa Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti itu.

Selain pisang, Kak Yanti juga menjual pepaya, mangga, jeruk dan buah-buahan lainnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Kota Lhokseumawe, Ramli, mengatakan pihaknya sudah membagikan APD dan mensosialisasikan kepada para pedagang agar mematuhi protokol kesehatan Covid-19.   

“(Terakhir) Disperindag Kota Lhokseumawe bersama tim dari Kementerian Perdagangan RI memberikan bantuan kepada pedagang berupa face shield, masker dan partisi pembatas di masing-masing pasar Kota Lhokseumawe pada pertengahan bulan ini,” kata Ramli saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Rabu (30/12), siang. 

“Apakah para pedagang yang menerima bantuan itu masih menggunakannya, itu tergantung kepada mereka. Yang jelas, kita sudah menyampaikan agar bantuan itu digunakan dengan baik, termasuk kita bantu cara pakai masker dan face shield dengan benar kepada beberapa pedagang,” ujar Sekretaris Disperindagkop-UKM Kota Lhokseumawe, Karimuddin, yang ikut turun ke sejumlah pasar mendampingi tim Kemendag saat penyerahan APD kepada para pedagang.

(Karimuddin membantu memakaikan face shield kepada pedagang sayuran di Pasar Pusong, Lhokseumawe. Foto: dok. Disperindagkop-UKM Lhokseumawe)

Karimuddin mengimbau semua pedagang dan masyarakat yang berbelanja di pasar-pasar Kota Lhokseumawe selalu mengikuti protokol kesehatan, salah satunya memakai masker atau face shield. “Kita juga memberikan bantuan wastafel untuk tempat cuci tangan yang diletakkan di beberapa tempat dalam kawasan pasar,” katanya.

“Kita harapkan semua bantuan itu dipergunakan secara maksimal.  Ini demi kebaikan kita juga agar terhindar dari wabah covid,” ucap Karimuddin.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani, saat menyampaikan data update tentang virus corona di Aceh pada Selasa, 29 Desember 2020, mengatakan hasil swab test dengan real time polymerase chain reaction (RT-PCR) menunjukkan sembilan kasus terkonfirmasi. Sedangkan penderita Covid-19 yang sembuh bertambah lagi 34 orang. Penderita Covid-19 dilaporkan sembuh tersebut, paling banyak warga Kabupaten Pidie, sebanyak 33 orang, dan satu orang lainnya merupakan warga Kota Sabang. 

Sementara sembilan kasus terkonfirmasi baru hasil pemeriksaan swab dengan RT-PCR meliputi warga Kota Banda Aceh lima orang, warga Kota Lhokseumawe dua orang, dan dua orang lainnya warga Kabupaten Aceh Selatan.  

Meski kasus baru terkonfirmasi jauh lebih rendah dari jumlah penderita yang sembuh dari perawatan rumah sakit atau isolasi mandiri, Satgas Covid-19 Aceh terus mengimbau masyarakat selalu waspada dan disiplin mempraktikkan perilaku baru dengan 3M. 

“Mencuci tangan pakai sabun sesering mungkin di bawah air yang mengalir, memakai masker, dan selalu menjaga jarak. Hindari orang-orang yang berkerumun atau berdesak-desakan merupakan keniscayaan dalam masa pandemi ini,” tutur Saifullah Abdulgani akrab disapa SAG.  

Juru Bicara Covid-19 Aceh itu juga melaporkan kasus kumulatif Covid-19, sejak kasus pertama diumumkan, 27 Maret 2020 silam. Jumlah akumulatif kasus Covid-19 Aceh sudah mencapai 8.736 orang. Penderita yang dirawat saat ini 861 orang, sudah sembuh sebanyak 7.531 orang, dan 344 orang meninggal dunia. 

SAG mengatakan kasus-kasus probable di Aceh secara akumulasi saat ini sebanyak 617 orang. Dari jumlah kasus probable tersebut, 25 orang dalam penanganan tim medis (isolasi RS), 537 sudah selesai isolasi, dan 55 orang meninggal dunia. Sedangkan jumlah kasus suspek di seluruh Aceh hari ini telah mencapai 5.450 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.843 orang sudah selesai masa isolasi, 545 orang dalam proses isolasi di rumah, dan 62 orang isolasi di rumah sakit.

Pedagang pisang tadi, Kak Yanti, berharap pula para pedagang lainnya dan masyarakat yang berbelanja di pasar, ikut memakai masker seperti yang ia lakukan. Sebab, mencegah lebih baik daripada mengobati. 

“Menurut saya, kalau merasa tidak nyaman pakai masker pagi sampai sore, bisa dilonggarkan sedikit (maskernya) saat lagi sendirian atau saat tidak ada pembeli. Karena memakai masker lebih baik daripada lengah sampai kena corona. Kalau sudah kena, bukan hanya kita yang menderita, keluarga ikut susah,” ucap Kak Yanti.[](*)