WAJAH Mizuar Mahdi memerah tatkala menceritakan kejadian yang dialaminya. Pun begitu dia tak berhenti semenit pun memainkan jemari di tuts keyboard laptop Asus yang layarnya sebagiannya menghitam. Mizuar adalah Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa).
“Sudah dua kali saya diminta oleh orang yang mengaku dari Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) untuk menandatangani surat. Katanya untuk honor, tapi nggak tahu honor untuk kegiatan apa atau program apa,” kata Mizuar membuka percakapan dengan wartawan portalsatu.com, di salah satu warung kopi di Banda Aceh, Rabu, 7 September 2016 malam.
Lelaki yang kerap melipat lengan baju untuk penyelamatan nisan-nisan kuno di Aceh ini terkesan tidak fokus dalam menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya, malam itu. Sesekali dia “terjebak” dengan inskripsi gambar nisan-nisan yang dikoleksinya di laptop. Tak jarang dia larut dengan kisah sejarah masa Kesultanan Aceh. Sebelum akhirnya Mizuar kembali fokus menceritakan tentang orang-orang yang mengaku dari JKPI memburu tandatangannya hanya untuk honor per bulan Rp 900 ribu.
“Saya benar-benar tidak mengerti kenapa mereka ngotot memburu tandatangan saya. Bahkan dengan menumpangi mobil, mereka bersedia datang ke tempat saya bekerja. Orangnya sudah berumur,” lanjut Mizuar dalam bahasa Aceh sembari mengutak-atik dokumen foto koleksi nisan yang ada.
Dia menyesalkan sikap orang-orang yang mengaku dari JKPI tersebut, yang dinilai hanya memanfaatkan tandatangannya untuk kepentingan pribadi. Kenapa tidak? Pasalnya sudah tiga bulan semenjak meminta tandatangan untuk amprah honor kegiatan JKPI mereka tidak pernah memberi kabar.
“Uang yang senilai Rp 900 ribu itu juga tidak kunjung dikirim. Malah beberapa hari lalu saya kembali ditelepon oleh orang yang juga mengaku dari JKPI untuk dimintai tandatangan lagi. Alasannya sama, untuk amprah honor,” kata Mizuar.
Kesal, Mizuar kemudian mempertanyakan maksud penandatanganan amprah honor kegiatan untuk kali kedua ini. Apalagi honor yang disebutkan sebelumnya belum juga dikirim. Padahal, Mizuar telah bernazar honor itu akan dihibahkan untuk kegiatan meuseuraya (gotong royong dalam bahasa Aceh) Mapesa.
Didampingi Teungku Taqiyuddin, Lc, Mizuar kemudian menceritakan bagaimana ia terlibat dalam JKPI. Kisahnya berawal dari kejadian sekitar tiga bulan yang lalu. Saat itu, ada oknum yang mengatasnamakan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) Banda Aceh menghubungi Mapesa. Mereka meminta supaya perwakilan Mapesa ikut dalam keanggotan JKPI tersebut.
Kontak awal Mapesa dengan JKPI juga dimulai saat Mizuar diminta tolong untuk menyebarkan undangan hajatan Jaringan Kota Pusaka yang dilaksanakan di Banda Aceh medio Mei 2016 lalu itu.
“Layaknya undangan perkawinan yang diberikan kepada beberapa anggota keluarga supaya mereka dapat menuliskan nama dan mengundang siapa saja yang perlu diundang. Alasan mengapa Mapesa diminta untuk mengisi nama-nama tersebut serta membagikannya, tidak diutarakan oleh orang suruhan JKPI Banda Aceh. Sekalipun Mapesa sama sekali tidak terlibat dalam apapun kepanitiaan, dan bahkan tidak tahu menahu soal penyelenggaraan event tersebut, tapi karena niatnya untuk membantu, Mapesa bersedia juga,” kata Mizuar.
Setelah event itulah Mizuar “diganggu” dengan permintaan tandatangan untuk amprah honor oleh orang-orang JKPI. Padahal, dia mengaku Mapesa sama sekali tidak bekerja di kegiatan yang menelan biaya hingga Rp 1.253.000.000,- itu. Dia menduga telah menjadi sasaran para oknum yang ingin memanfaatkan ketulusan Mapesa dalam melacak jejak sejarah Aceh.
“Sekarang, Mapesa menghimbau supaya JKPI Banda Aceh memperjelas dirinya kepada masyarakat Kota Banda Aceh, dan juga meminta agar apapun peran yang dilakukannya dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi Kota Banda Aceh dan warganya! Jangan hanya sibuk soal amprahan,” ujar Mizuar kesal.
Dia juga berharap dinas atau badan terkait mengungkap kinerja JKPI kepada publik dan tidak hanya menghabiskan anggaran saja.
“Apa untungnya dengan kegiatan yang pernah dilakukan JKPI itu untuk penyelematan khasanah budaya dan benda bersejarah di Aceh?” Tanya Mizuar seraya memperlihatkan testimoni kekesalannya kepada JKPI yang diunggah ke akun Facebook grup Mapesa.[](bna)





