Oleh Thayeb Loh Angen
Jurnalis portalsatu.com/

Segala yang berawal akan berakhir. Begitulah adat dunia. Berawal pada September 2021 dan berakhir pada Juli 2023. Itulah rentang waktu Kepala Perhubungan Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Kahubdam IM) Kolonel Chb Jun Hisatur Mastra melaksanakan dalam kerja bakti meuseuraya-bergotong-royong–menyelamatkan nisan Aceh, bersama sekelompok sukarelawan peneliti muda, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa).

Sejak hari pertama meuseuraya, setiap harinya, perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) Jun Hisatur Mastra mengelilingi kawasan Banda Aceh untuk melihat dan mempelajari nisan Aceh.

Pada awal mulanya, Jun Hisatur Mastra dan pasukannya mengikuti jadwal meuseuraya Mapesa di setiap hari Ahad (Minggu). Namun, setelah seiring berjalannya waktu, untuk lebih efektif, Jun Hasitur Mastra dan pasukannya meuseraya pada setiap pagi Jumat, pada jam kerja sebagai kerja bakti. Pada setiap meuseuraya, dia mengajak seluruh pasukannya, beserta beberapa instansi lain yang dinilainya perlu, untuk bekerja bakti, meuseuraya tersebut.

Sejak itu pula, setiap petang dan malam, dia berkecimpung dengan sukarelawan Mapesa, membicarakan sejarah sepanjang petang dan malam. Itu berlangsung secara terus menerus, selama dua tahun ini. Namun, itu harus berakhir pada 17 Juli 2023.

Siang itu, Ahad, 9 Juli 2023, sebuah peristiwa penting terjadi. Seluruh pengurus Mapesa bersama Jun Hisatur Mastra dan rekan serta pengawalnya, berkumpul di sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum, di dekat kapal PLTD Apung, Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.

Setelah makan siang bersama usai, para pengurus Mapesa dan Jun Hisatur Mastra berbagi kisah kembali, berbalas-balasan pandangan dan kenangan, bercengkrama ria. Kali ini dengan kesan berbeda.

Kalau di hari-hari sebelumnya, semua merasakan ceria seakan tanpa akhir, maka hari itu tetap ceria, tapi dari raut wajah para hadirin, terlihat jelas rasa segera kehilangan. Walaupun orangnya masih di hadapan, tetapi kepastian akan berpisah membuat segalanya menjadi gundah gulana.

Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, memberikan piagam penghargaan kepada Hubdam IM, diterima oleh Kepala Urusan Personalia Hubdam IM, Letnan Satu Parlaungan Pasaribu. @Irfan M Nur/Mapesa

Siang itu, Mapesa memberikan penghargaan Tampuk Mas kepada Kolonel Chb Jun Hisatur Mastra. Pada kesempatan yang sama, Mapesa memberikan piagam penghargaan kepada Perhubungan Komando Daerah Militer Iskandar Muda, yang diterima oleh Kepala Urusan Personalia Hubdam IM, Letnan Satu Parlaungan Pasaribu.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Mapesa yang juga Direktur Pedir Museum, Masykur Syafruddin, menyerahkan piagam penghargaan kepada Kolonel Chb Jun Hisatur Mastra.

Wakil Ketua Mapesa yang juga Direktur Pedir Museum, Masykur Syafruddin, menyerahkan piagam penghargaan kepada Kolonel Chb Jun Hisatur Mastra. @Irfan M Nur/Mapesa

“Pak Jun Hisatur Mastra telah berjasa terhadap penyelamatan artefak penting. Beliau membelinya dari masyarakat dan kemudian mewakafkannya kepada Pedir Museum untuk pengembangan ilmu pengetahuan,” kata Masykur.

Pada penyerahan penghargaan tersebut, Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Mizuar Mahdi, mengatakan, dalam seratus tahun terakhir maupun sepanjang sejarah Indonesia merdeka, baru kali ini militer yang bertugas di Aceh masuk langsung secara aktif ke bidang pelestarian cagar budaya.

“Itulah alasan Mapesa memberikan penghargaan Tampuk Mas, sebuah penghargaan eksklusif, tokoh teladan, dan ini adalah penghargaan pertama yang kami berikan secara resmi,” kata Mizuar Mahdi.

Pertemuan sukarelawan Mapesa dan Kahubdam IM Jun Hisatur Mastra dan rombongan, di Sekretariat bersama Mapesa dan Pedir Museum, di dekat kapal PLTD Apung, Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Ahad, 9 Juli 2023. @Irfan M Nur/Mapesa

Pada kesempatan tersebut, pembina Mapesa, Taqiyuddin Muhammad, menjelaskan sebuah filosofi tentang keteladanan.

“Jun Hisatur Mastra memiliki keteladanan. Kehadirannya beserta seluruh sumberdayanya, membawa instansinya untuk kerja bakti meuseuraya, dan telah mempercepat kerja pelestarian cagar budaya dan pengambilan data di lapangan,” kata Taqiyuddin, yang merupakan peneliti sejarah kebudayaan Islam untuk kawasan Asia Tenggara.[]