ACEH BESAR – Dosen Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry, Mohd. Kalam Daud, mengajak semua elemen kembali menggunakan tulisan Arab-Melayu di Aceh.

“Marilah kita pakai Arab-Melayu kembali di Aceh ini,” kata Mohd. Kalam Daud pada acara 'Meurunoe Harah Jawoe Bahasa Aceh', di Kediaman TA. Sakti, di Bale Tambeh, Tanjung Selamat, Darussalam, Aceh Besar, Sabtu 1 September 2018 sore.

Kalam Daud menjelaskan, penggunaan Arab- Melayu Jawi di Aceh berlangsung sejak era Kerajaan Islam Samudra Pasai dan Aceh Darussalam.

“Mempelajari Arab-Melayu ini, terutama bagi kita Aceh sangat penting. Malah sejak Kerajaan Samudra Pasai, Peureulak sampai ke Kerajaan Aceh Darussalam, tidak ada tulisan lain yang dipakai dalam menulis apa saja, baik menulis kitab-kitab, surat-surat, malah pada batu-batu nisan juga tulisan-tulisan itu yang dipakai,” ujar Kalam Daud.

Masak ketika datang penjajahan barat ke nusantara ini, secara berangsur-angsur yang telah kita pakai berabad-abad kita buang begitu saja tidak kita pakai lagi, dan kita pakai tulisan latin,” katanya.

Dia memberikan contoh, seperti Jepang dan China yang masih mempertahankan tulisan dan bahasa sendiri di tengah pengaruh global  untuk menggunakan tulisan latin.

“Sedangkan di Aceh dengan sangat mudah membuang ciri khasnya sendiri,” ujar Kalam Daud.

Sementara itu, peminat budaya dan sastra Aceh, Drs. Teuku Abdullah Sulaiman alias TA. Sakti, selaku pendiri  kajian itu mengatakan, untuk tahap awal kajian tersebut ia belum menetapkan kitab apa yang akan dikaji. Tahap awal ia lebih fokus kepada pengenalan harah Arab-Jawoe-Aceh serta cara membacanya terlebih dahulu.

“Ini bertujuan untuk membangkitkan kembali minat masyarakat untuk bisa membaca kembali harah atau tulisan Arab-Jawoe-Aceh,” kata TA. Sakti.

Terkait kitab apa yang kelak akan digunakan, kitab yang tersedia di antaranya Akhbarul Karim, karya Tengku Seumatang, ditambah lagi dengan ratusan judul kitab Arab-Jawoe-Aceh karya ulama-ulama Aceh yang sudah dikirim dari Inggris dan Jerman ke WhatsApp TA. Sakti versi digital.

TA. Sakti mengatakan, ia bersama Mohd. Kalam Daud adalah pengalih bahasa kitab Qanun Meukuta Alam, dalam syarah tadhkirah Tabaqat Teungku di Mulek dan komentarnya dari Arab-Melayu ke tulisan latin. Juga kitab Al-Rahmah Fi Al-Tibb Wa'l-Hikmah karya Teungku Chik Kuta Karang, teori penyakit dan tindakan medis dari zaman Yunani kuno sampai Kerajaan Aceh Darussalam.

 “Acara 'Meurunoe Harah Jawoe Bahasa Aceh' yang kita adakan tiap Sabtu sore ini, akan diisi oleh narasumber yang berbeda. Salah satunya adalah Bapak Mohd. Kalam Daud,” kata TA. Sakti.[]