Nabi Yunus AS pernah kecewa dengan umatnya karena enggan beriman. Lalu Allah membersihkannya dari kelalaian itu dengan perantaraan ikan paus. Ya, sang nabi ditelan ikan paus setelah kisah pengundian di atas kapal. Allah bahkan menegaskan bahwa andai nabi Yunus tak segera berzikir dan menyadari kehilafannnya, nabi Yunus pasti akan berada di perut ikan itu hingga hari kiamat.
Namun nabi Yunus terilhami dengan zikir Rabbnya, konon ia terinspirasi dari isi perut ikan yang berzikir, juga serpihan bebatu di dalamnya. Disitulah nabi Yunus tersentak dan menyadari bahwa tiada yang bisa menjamin keselamatannya kecuali Allah.
Iapun tak lepas lepas berzikir dengan lafazh “la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin”: tiada yang disembah selain Engkau ya Allah, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang orang yang zhalim, ( Al-Quran surat Anbiya', 88).
Lewat zikir pengakuannnya ini Nabi Yunus dikembalikan Allah kepada kaumnya. Setiba di tepi laut ia langsung mendapatkan tumbuhan labu untuk dimakan dan ribuan umatnya pun menerima ajarannnya setelah itu.
Dalam riwayat hadis disebutkan bahwa zikir nabi Yunus ini baik diamalkan sebagai penawar dalam gelapnya masalah hidup ataupun perkara yang pelik. Para ulama juga sering menisbahkan zikir ini bagi para pelaut dan orang orang yang menggunakan kapal laut agar mendapat keselamatan.
Dari petikan kisah dan zikir di atas kita bisa mengambil ibrah, bahwa Allah Selalu Mengawasi dan Merahmati hambanya. Dan rahmatNya itu hanya bagi yang Ia Ampuni. Diantara caranya adalah dengan mengakui kesalahan diri dan banyak mengingatNya sepanjang waktu. Niscaya Allah akan memberi ilham dan melapangkan jalan kita.[]
Penulis: Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia. Kab. Aceh Barat



