Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar menceritakan Imam Muhammad Sahl bin Abdullah al-Tustari (w. 283 H), seorang sufi besar asal Tustar yang ditanya tentang karamah-nya dapat berjalan di atas air.
Dikisahkan, Imam Sahl al-Tustari berjalan di atas air dan kakinya tidak basah. Sekumpulan orang bertanya kepadanya: “Benarkah kau dapat berjalan di atas air?”
Imam Sahl menjawab: “Tanyalah pada muazin itu. Dia orang yang jujur perkataannya.”
Mereka bertanya pada muazin itu. Kemudian muazin itu menjawab: “Aku tidak tahu soal itu, tetapi aku melihatnya jatuh ke dalam kolam. Andai saja aku tidak ada dan melihatnya tenggelem, ia telah mati di dalam kolam.”
Imam Abu Ali al-Daqqaq rahimahu Allah berkomentar: “Sahl adalah shahibul karamah, hanya saja ia menyembunyikannya dari manusia.” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm. 330).
Mungkin banyak orang yang tidak percaya dengan adanya karamah (keramat), silakan saja. Namun, dalam tradisi Islam, kita mengenal istilah mukjizat, irhas, karamah, ma’unah, dan istidraj.
Mukjizat diberikan Allah kepada para nabi dan rasul. Irhas untuk calon nabi dan rasul. Karamah bagi para wali. Ma’unah untuk orang-orang beriman. Dan Istidraj untuk orang-orang sesat seperti Fir’aun dan Dajjal. Yang jelas, dengan kehendak Allah tidak ada yang tidak mungkin.
Kisah di atas mengutarakan kerendahan hati (tawadlu’) Imam Sahl bin Abdullah al-Tustari. Ia menyuruh orang-orang itu bertanya kepada seorang muazin masjid. Muazin itu menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu Imam Sahl hampir mati tenggelam di kolam. Jika tidak ada dirinya yang menolong, mungkin saja ia telah meninggal.
Imam Sahl tidak gengsi dan takut derajatnya turun. Ia tidak mempermasalahkan jika kewaliannya diragukan, barangkali itu yang diinginkannya. Jikapun nantinya semua orang memandangnya sebelah mata, ia tidak akan peduli. Baginya, Allah adalah segalanya. Wali-wali Allah itu memiliki hati seluas samudera dan sebersih udara surga.
Seberapa sering mereka menjauhkan diri dari pujian, bahkan terkadang melakukan hal-hal yang menjatuhkan kemuliaan mereka sendiri dengan sengaja. Hati mereka selalu tergerak untuk menolong sesama, berbuat baik tanpa maksud dan tujuan tertentu. Kebaikan natural hasil dari penjernihan hati tanpa henti dan taqarrub kepada Ilahi. Akibatnya, pandangan jelek orang-orang kepadanya, berangsur-angsur berubah menjadi kekaguman lagi.
Itulah salah satu alasan, kenapa cerita tentang mereka masih bertahan hingga sekarang, bertebaran di kitab-kitab, dan dituturkan dari generasi ke generasi. Mereka adalah penyebar Islam paling efektif. Proses pengislaman Indonesia, Benua Afrika, dan banyak daerah lainnya melalui tangan-tangan mereka. Sampai sekarang, dari mulai benua Afrika hingga Asia Tenggara, peninggalan mereka masih hangat terasa.
Dalam kisah di atas, Imam Sahl tidak merasa perlu mengunggulkan dirinya. Ia memilih menjawab dengan cara itu, menjatuhkan dirinya sejatuh-jatuhnya. Lagi pula, bagi para sufi, berjalan di atas air dan terbang seperti burung, bukanlah hal ajaib atau aneh. Segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah, jika Allah menghendaki apapun mungkin terjadi.
Ketika Imam Abu Yazid al-Bistham ditanya, “annaka tamurru fi al-hawa?—kau berjalan di atas angin (terbang)?” Imam Abu Yazid menjawab:
“Burung yang memakan bangkai bisa berjalan di atas angin (terbang), apalagi orang beriman yang jelas-jelas lebih mulia dari burung.” (Dr. Abdul Halim Mahmud, Abu Yazid al-Bastham: Sulthan al-‘Arifin, Kairo: Darul Ma’arif, tt, hlm. 167).
Bagi para sufi, hal semacam itu dianggap, “laisa dzalika bi ‘ajibin—tidak perlu dibesar-besarkan sampai takjub” atau tidak percaya. Iblis yang dilaknat dapat terbang secepat cahaya, mungkin lebih cepat. Kayu yang tak bernyawa dapat mengapung di atas air. Apalagi orang-orang beriman yang lebih mulia dari mereka.
Yang perlu dipahami adalah, karamah terbesar para wali bukan kemampuan mereka berjalan di atas air atau terbang di atas angin. Karamah terbesar mereka adalah akhlaknya, seperti Nabi Muhammad Saw. Mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah akhlaknya, bukan menghidupkan orang mati, membelah lautan atau berbicara dengan binatang. Meskipun kita harus yakin, Nabi Muhammad mampu melakukan semua itu dengan izin Allah.
Sudahkah kita merendahkan diri di hadapan Allah dan makhluk-Nya untuk mencapai keabadian ukhrawi? Semoga saja. Wallahu a’lam.
(Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen).[]Sumber: nu.or.id






