Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaEkonomiKarantina dan Perizinan...

Karantina dan Perizinan jadi Kendala Pengusaha Melakukan Ekspor dari Pelabuhan Krueng Geukueh

LHOKSUEMAWE – Para pengusaha Aceh kesulitan melakukan ekspor impor melalui Pelabuhan Krueng Geukuh karena terkndala karantina dan perizinan. Sementara di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara semua sudah tersedia bahkan ada yang mengurusnya.

Hal itu diungkapkan salah satu pengusaha Aceh, Nazaruddin dalam pertemuan Pansus Raqan Tata Niaga Komoditas Aceh (TNKA) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dengan pihak PT Pelindo Cabang Lhokseumawe, Kamis siang, 7 Oktober 2021.

Menurut pria yang sering disapa Dek Gam ini, saat mengekspor barang ke luar negeri,  ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pengiriman barang ke negara tujuan. Mulai dari proses karantina, fumigasi, surveyor, bea cukai, serta kepengurusan-kepengurusan lainnya yang dibutuhkan untuk mengekspor barang.

“Misalnya kopi, itu harus dilakukan karantina tumbuh-tumbuhan yang saat ini adanya di Medan. Sedangkan ikan itu karantinanya di Banda Aceh. Jadi tidak mungkin kami mengirim barang ke Medan atau Banda Aceh hanya untuk karantina, lalu bawa barang lagi ke mari (Pelabuhan Krueng Geukueh) untuk diekspor,” jelasnya.

Selain itu, kata Nazaruddin, persoalan izin juga menjadi kendala, di mana di Belawan, sudah ada pihak yang memproses izin serta syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam mengekspor barang ke luar negeri. Sementara di Pelabuhan Krueng Geukueh tidak ada. Karena itu ia berharap di Pelabuhan Krueng Geukueh tersedia pelayanan satu pintu.

“Perlu adanya layanan satu pintu untuk pengurusan dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam mengekspor barang. Karena, negara tujuan itu jika satu syarat saja tidak terpenuhi, maka barang kita disuruh putar balik bawa pulang,” ungkapnya.

Baca Juga: Pelabuhan Krueng Geukueh Butuh Dukungan Pihak Luar

Sementara itu, perwakilan pengusaha pelayaran (Indonesia National Shipowners Associattio/INSA), Ahsanuddin, mengatakan untuk melakukan ekspor langsung ke luar negeri, sangat sulit mendatangkan kapal-kapal bermuatan besar berbendera asing.

“Karena kita orientasinya ke luar negeri kan butuh kapal asing, tapi masalahnya jika di Belawan itu datang dengan kapal bermuatan 5 ribu kontainer, itu di sana sudah terkumpul kontainernya dan tinggal diangkut saja ke kapal. Jadi, jika pengirimannya ke luar negeri, itu bisa langsung berangkat. Tapi jika dia datang ke sini untuk mengambil kontainer cuma sepuluh, dengan biaya labuh dia atau biaya konsumsi minyak yang dikeluarkan, itu tidak imbang dengan barang yang dia bawa,” jelasnya.

Ahsanuddin menambahkan, harus dipikirkan solusinya. Jika ingin melakukan ekspor, maka yang harus dihadirkan adalah armada yang akan membawa barang itu ke luar negeri. “Jangan sampai nanti pengusaha kecil yang mau membawa barangnya ke Belawan tidak bisa lagi, tapi di pelabuhan kita tidak ada armada,” pungkasnya.[]

Baca juga: