SUBULUSSALAM — Kasus meninggalnya bayi di RSUD Aceh Singkil karena dugaan keterlambatan pemasangan infus kini sedang dalam proses mediasi dengan pihak keluarga.
Direktur RSUD Aceh Singkil, dr. Darul saat dikonfirmasi portalsatu.com/, Kamis, 4 Januari 2018 mengatakan, proses mediasi dilakukan untuk mencari jalan damai.
dr. Darul baru mengatakan ia baru saja dipercayakan menjabat Dirut RSUD Aceh Singkil dan belum dilakukan serah terima jabatan. Sehingga ia mengaku belum bisa berbicara banyak terkait kronologis meninggal bayi tersebut.
“Saya baru, belum pun sertijab. Tapi tadi sudah dilakukan proses mediasi dengan keluarga korban, tapi belum ada titik temu, kondisi pertemuan berlangsung alot,” kata Darul.
Karena itu, kata Darul, Kamis depan pihaknya menjadwalkan kembali pertemuan antara keluarga korban dengan petugas yang saat itu merawat bayi, termasuk menghadirkan dokter yang bersangkutan.
“Tadi keluarga korban minta petugas dihadirkan, maka Kamis depan kita jadwalkan proses mediasi kembali. Supaya masalah ini jangan berlarut- larut, kita ingin kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, warga net dari sosial media Facebook, dalam beberapa hari ini dihebohkan oleh postingan curhatan sebuah keluarga yang merasa dirugikan dan mengakibatkan meninggalnya seorang bayi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Aceh Singkil.
Akun Facebook atas nama Herawati Hera, dalam postingan 30 Desember 2017 lalu menyebutkan, bayi yang diakuinya sebagai keponakannya (anak dari adiknya itu) meninggal di RSUD Aceh Singkil dikarenakan tidak adanya petugas medis yang bisa memasang infus pada bayi. Petugas rumah sakit yang pandai memasang infus pada bayi dikatakannya saat itu sedang ke luar daerah.
Selaku pihak keluarga, dia merasa kecewa dengan kinerja dari pada petugas rumah sakit. Bahkan, dalam postingannya Herawati Hera merasa heran dengan RSUD yang hanya memiliki dua orang pemasang infus untuk bayi.[]




