BANDA ACEH – Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG), mengatakan peningkatan kasus positif Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Aceh umumnya hasil tracing kontak erat dari pasien sebelumnya.

“Kasus-kasus baru yang melonjak itu umumnya orang tanpa gejala (OTG) karena mereka tidak sakit, cuma dia kontak erat dengan pasien positif sebelumnya,” kata SAG saat dikonfirmasi portalsatu.com/, Senin, 10 Agustus 2020.

SAG menjelaskan, tim surveilans gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Aceh dan kabupaten/kota setiap hari menelusuri orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien OTG.

Tracing yang dilakukan masif cuma tidak semuanya bisa dijangkau oleh (gugus tugas) provinsi, gak cukup orang. Karenanya tim surveilans di kabupaten/kota juga perlu,” ujar SAG.

Pemerintah Aceh, lanjut SAG, telah mengeluarkan surat untuk menutup perbatasan Aceh – Sumatera Utara (Sumut) kepada empat bupati/wali kota. Salah satunya berbunyi, bagi orang yang masuk ke Aceh minimal harus ada surat keterangan bebas virus corona melalui uji rapid. “Kewenangan menjaga gerbang perbatasan itu ada pada kabupaten/kota,” ujarnya.

“Kemudian Pemerintah Aceh juga telah mengeluarkan surat larangan membuka sekolah untuk daerah yang bukan zona hijau,” ungkap SAG.

Pemerintah Aceh dalam hal ini gugus tugas Covid-19 Aceh, kata SAG, terus melakukan koordinasi dengan gugus tugas pusat untuk meminimalisir kasus lonjakan virus corona di Tanah Rencong.

“Setiap hari kita laporkan ke jubir pusat kemudian setiap kebijakan dari pusat kita tindaklanjuti. Laporan-laporan kasus kita mereka menganalisis juga mengeluarkan rekomendasi termasuk penetapan zona warna. sampai sekarang kita terus koordinasi dengan pusat,” pungkas SAG.[]