BLANGKEJEREN – Program Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gayo Lues dalam pemberantasan narkotika jenis ganja dan sabu tahun 2020 tampaknya masih kurang membuahkan hasil yang maksimal. Pasalnya, meskipun BNNK sudah melakukan sosilisasi, pelatihan life skill hingga memberikan bantuan bibit kopi dan jagung kepada warga, angka kasus ditangani pihak kepolisian malah semakin meningkat.

Tercatat, kasus narkotika tahun 2019 yang ditangani Polres Gayo Lues sebanyak 43 kasus, dan 2020 mencapai 54 kasus. Jumlah kasus dari tahun 2009 ke 2020 meningkat 11 kasus.

Fauzul Iman, Kepala BNNK Gayo Lues, Selasa, 19 Januari 2021, mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi dan mendukung penangkapan-penangkapan yang dilakukan Polres Gayo Lues. Dia berharap hal ini tetap dilakukan yaitu tindakan tegas dan terukur supaya bisa menjadikan efek jera kepada para pengedar narkoba.

“Upaya BNK Gayo Lues tahun 2021 dalam hal menekan angka peredaran ganja dan narkotika jenis lainya antara lain, kita akan meningkatkan profesionalitas anggota. Kita berharap anggota bisa dapat membuat suatu inovasi dan terobosan-terobosan baru dalam menekan demand reducation, strategi pencegahan dan pemberantasan akan memberikan pemahaman dan kesadaran hukum bagi masyarakat kita,” katanya melalui pesan WhatsApp saat ditanya langkah apa yang akan dilakukan BNNK dalam memberantas peredaran narkotika di 2021.

Fauzul Iman mengakui angka pengguna lebih tinggi di kalangan pemuda. Program yang dijalankan BNNK yaitu ketahanan keluarga berbasis sumber daya pembangunan desa, pemetaan potensi pada kawasan rawan narkoba dan lainnya

“Kemudian meningkatkan kepercayaan publik, melibatkan stakeholder, dan menggali potensi daerah guna menciptakan kewirausahaan. Program yang kita jalankan adalah program alternatif, life skill di kawasan rawan narkoba. Tentunya hal ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Juga akan melakukan pemberdayaan masyarakat antinarkoba melalui tes urine, dan selanjutnya program P4GN yaitu pembentukan remaja teman sebaya antinarkotika,” jelasnya.

Pihak BNNK juga akan melakukan pengkajian potensi yang ada di daerah rawan. Caranya adalah dengan mengganti tanaman ganja dengan tanaman lain seperti jagung dan kopi.

Untuk tanaman jahe merah, Fauzul Iman mengaku pihaknya telah bersinergi dengan Pemda Gayo Lues melalui Dinas Pertanian, dan juga sudah diusulkan ke BNNP Aceh yang nantinya akan diteruskan ke pusat.

“Harapan kita agar masyarakat sadar hukum dan ketahanan pangan tetap terjaga. Dengan adanya program GDAD ini, masyarakat tidak lagi menanam ganja,” ujarnya.[]