BANDA ACEH – Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Dr. Mohd. Harun, M.Pd., mengatakan, hiem merupakan salah satu media berkomunikasi dalam komunitas tertentu, seperti komunitas remaja putra, remaja putri, dan komunitas lainnya. Hiem adalah kosakata bahasa Aceh yang dalam bahasa Melayu disebut teka-teki, dalam bahasa Gayo disebut keketiken, dan dalam bahasa Jawa disebut cangkriman.
Hal tersebut disampaikan Harun dalam makalahnya 'Berkenalan Dengan Teka-Teki (h’iem)-Sudut Pandang Sastra Aceh',” pada acara Kegiatan Revitalisasi Sastra Lisan H’iem, di Balai Bahasa Aceh, Rabu 25 April 2018.
Harun mengatakan, hiem memiliki berbagai fungsi, beragam tema, diucapkan pada berbagai tempat dan waktu dengan tatacara tertentu, serta memiliki formula tersendiri. Dalam sastra Aceh, teka-teki merupakan sastra lisan, sebagian besar diucapkan dengan bahasa berirama, terdiri atas satu baris, dua baris, tiga baris, empat baris, dan enam baris.
“Dalam kesusastraan Aceh terdapat teka-teki satu baris. Meskipun cenderung tidak bersajak, ia tetap digolongkan ke dalam wilayah sastra, karena dihadirkan dengan bahasa konotatif-sampiran-implisit. Contohnya, Mak duek aneuk meunari (Ibu duduk anak menari), jawabannya adalah batèe seumupéh (batu giling),” kata Harun.
Harun mengatakan, hiem dua baris banyak ditemukan dalam kehidupan orang Aceh. Umumnya hiem tersebut berbentuk sampiran. Jika hendak digolongkan ke dalam jenis puisi, ia dapat dimasukkan ke dalam jenis pantun kilat. Misalnya, Saboh kaca dua minyeuk, Saboh aneuk dua mata. (Satu botol dua minyak, Satu anak dua mata). Jawabannya adalah boh manok (telur ayam).
“Ada juga teka-teki tiga baris sebait. Teka-teki ini memiliki persajakan akhir /aaa/. Contohnya, gaki bak ulèe, babah bak ulèe, badan pih bak ulèe (kaki di kepala, mulut di kepala, badan pun di kepala). Jawabannya adalah gutèe (kutu),” kata Harun.
Kata Harun, ada pula teka-teki atau hi’em empat baris lazimnya memiliki ciri sebuah pantun empat baris sebait, yaitu bersajak akhir (a-b-a-b). Contohnya, na saboh siwah jipo u laot. jingieng u likot aneukjih ka na jijak jiwoe eumpeuen lam reugam, soe trôh paham cuba bôh makna (Seekor elang terbang ke laut, melihat ke belakang sudah ada anaknya, pulang-pergi makanan dalam genggaman, siapa yang paham cobalah beri makna). Jawabannya adalah ureueng teumuléh (orang menulis).
“Hiem enam baris juga ditemukan dalam sastra Aceh, meskipun tidak banyak. Salah satunya terdapat dalam Arif (2006:16—18) berikut ini. Saboh syiah geutron di glé, pajoh padé meugunca-gunca, ladom geutueng ladom geuboh, ladom geusroh ladom seuba, cuba peugah hai budiman, soe syiah nyan geuboh nama?(Seorang ulama turun dari gunung, makan padi duhai banyaknya, sebagian diambil sebagian dibuang,sebagian dibersihkan sebagian ditumbuk, coba katakan hai budiman, siapa gerangan ulama itu namanya?). Jawabannya adalah jeungki atau alat penumbuk padi,” kata Harun.
Harun mengatakan, kegiatan berteka-teki dalam masyarakat Aceh kini semakin berkurang intensitasnya. Akibatnya, jangankan lahir teka-teki baru sebagai wujud kreativitas anak bangsa, bahkan banyak teka-teki yang dulu popular di kalangan masyarakat hilang ditelan zaman.
“Hal tersebut menggelisahkan para pemerhati bahasa, sastra, dan budaya. Sebab, hilangnya teka-teki di tengah-tengah masyarakat, hilang pulalah sekeping kearifan lokal dari rumah besar Indonesia. Atas dasar itu, diperlukan revitalisasi teka-teki secara berkesinambungan oleh lembaga resmi pemerintah, termasuk mempopulerkan kembali melalui jalur pendidikan formal dan nonformal,” kata Harun.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama Balai Bahasa Banda Aceh mengadakan Rapat Koordinasi Revitalisasi Sastra Lisan Hiem, di ruang pertemuan kantornya, Rabu, 25 April 2018.
Acara yang dipandu oleh Maini dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, menghadirkan dua pemateri, yaitu dosen sastra Aceh di Unsyiah Dr Mohd Harun, M.Pd, dan praktisi hiem Aceh M Yusuf Bombang (Apa Kaoy).
“Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah diadakannya pementasan hiem oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan Balai Bahasa Banda Aceh. Tujuannya, supaya masyarakat, terutama generasi muda Aceh dapat mengetahui, mempelajari hiem. Dengan demikian diharapkan hiem dapat dibangkitkan, dikembangkan, dan dilestarikan keebradaannya di Aceh. Pementasan hiem akan dilaksanakan pada Agustus 2018,” kata Ibrahim.[]




