BANDA ACEH – Dramawan dan praktisi hiem Aceh, M. Yusuf Bombang akrab disapa Apa Kaoy, mengatakan, hiem berasal dari kalangan dayah. Keberadaan hiem dalam masyarakat tidak dianggap sebagai sebuah seni, apalagi sebagai seni pertunjukan. Sama halnya seperti Hadih Maja, Hiem juga lahir dan mengalir secara spontanitas di sela-sela percakapan, sesuai tempat, aktivitas, dan topik obrolan dalam keseharian masyarakat di Aceh.
Hal tersebut disampaikan Apa Kaoy dalam makalahnya “Keberadaan Hiem dalam Keseharian Masyarakat Aceh”, pada acara Kegiatan Revitalisasi Sastra Lisan H’iem, di Balai Bahasa Aceh, Rabu 25 April 2018.
“Menurut penuturan para orang tua yang pernah saya jumpai di berbagai pelosok daerah di Aceh sejak tahun 1990-an, Hiem dan Hadih Maja sudah berkembang dalam kehidupan masyarakat jauh sebelum terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam,” kata Apa Kaoy.
Hiem, kata Apa Kaoy, yang oleh masyarakat Aceh sendiri juga sering disebut sebagai Haba Peukateun Ureung Tuha, hampir tak pernah terpisahkan dalam keseharian hidup masyarakat Aceh pada jaman dahulu, terutama di kampung-kampung.
“Menurut sepengetahuan saya, yang sudah mulai tertarik mempelajari dan mendalami Hiem sejak usia remaja, berkesimpulan bahwa Hiem dapat dibagi menjadi beberapa kategori atau kelompok tema, yaitu: Hiem yang berisi tentang pengetahuan agama, pengetahuan umum, kritik sosial, dan hiem sebagai hiburan,” kata Apa Kaoy.
Apa Kaoy mencontohkan hiem tentang agama. Misalnya, Na sidroe ureueng geu teungoh di blang, Ateueh ateueng blang geu seumayang leuho ngon asa, Jijak asee jilieh bak punggong, Meunurot hukom, sah atawa hana?. (Ada satu orang dari sawah, di atas pematangan sawah ia shalat zuhur dan asar, datang anjing menjilat dubur, menurut hukum, sah atu tidak?) Jawaban: Sah, sabab asee jilieh punggong droe jih (Jawabannya ‘sah, karena anjing menjilat duburnya sendiri.
“Pengalaman masa kecil saya di kampung (sebuah kampung di pesisir Aceh Utara) sering melihat dan mendengar para orang tua dan orang dewasa, saat-saat santai di Keude Kupi (warung kopi), Rangkang Blang (dangau di Sawah), Balee dan Meulasah, Balee Dayah (balai di pesantren), Bak teumpat Ceumeulheo, Hiem hampir selalu disertakan di sela-sela obrolan mereka,” kata Apa Kaoy terus menceritakan.
Saat-saat obrolan sedang berlangsung seseorang akan mengajukan Hiem, sementara yang lainnya akan menjawab. Apabila orang yang pertama jawabannya salah, maka akan dijawab oleh yang lainnya. Kalau tidak seorang pun bisa menjawab dengan benar, maka si pengaju akan memberi jawaban pada saat itu atau kadang-kadang menunda, memberi kesempatan untuk dijawab pada waktu yang lain.
“Biasanya Hiem yang diajukan sesuai dengan topik obrolan yang sedang berlangsung pada saat itu. Misalnya mereka sesama Teungku (ustad) saat membahas sesuatu persoalan tentang agama, maka salah seorang di antaranya akan secara spontanitas mengajukan Hiem yang berkaitan dengan persoalan tersebut,” kata Apa Kaoy.
Sebagai contoh, kata dia, hiem yang lahir dalam kalangan dayah atau pesantren yang diajukan oleh seorang guru untuk menguji tingkat wawasan atau sebagai motivasi belajar kepada para muridnya.
“Contohnya, Manok itam jipho u manyang, Jipho ji’oh lam awan mega. Masa keurajeuen Nabi Adam, Nabi Muhammad pat masa nyan? (Ayam hitam terbang tinggi, Terbang jauh ke awan mega, Pada masa Nabi Adam, Nabi Muhammad dimana berada?), jawabannya, dalam Nur Allah,” kata Apa Kaoy.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama Balai Bahasa Banda Aceh mengadakan Rapat Koordinasi Revitalisasi Sastra Lisan Hiem, di ruang pertemuan kantornya, Rabu, 25 April 2018.
Acara yang dipandu oleh Maini dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, menghadirkan dua pemateri, yaitu dosen sastra Aceh di Unsyiah Dr Mohd Harun, M.Pd, dan praktisi hiem Aceh M Yusuf Bombang (Apa Kaoy).
“Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah diadakannya pementasan hiem oleh Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan Balai Bahasa Banda Aceh. Tujuannya, supaya masyarakat, terutama generasi muda Aceh dapat mengetahui, mempelajari hiem. Dengan demikian diharapkan hiem dapat dibangkitkan, dikembangkan, dan dilestarikan keebradaannya di Aceh. Pementasan hiem akan dilaksanakan pada Agustus 2018,” kata Ibrahim.[]




