TAKENGON – Rencana aksi damai 2 November 2016 yang dilakukan Ormas Islam untuk menuntut Gubernur non aktif DKI-Jakarta Basuki Cahaya Purnama (Ahok), juga mendapat sambutan positif dari penganut agama Katolik yang berdomisili di Aceh Tengah.
“Bebas menyampaikan pendapat di muka umum dibenarkan. Sejauh aksi itu tidak anarkis, kita mendukung,” kata Wakil Ketua Gereja Katolik Takengon Immanuel Husin di sela-sela acara peringatan hari Nusantara di halaman Setdakab kepada portalsatu.com, Rabu 30 November 2016.
Keturunan Tionghoa itu juga meyayangkan statemen Ahok yang menimbulkan kondisi riuh dan reaksi protes besar-besaran dari masyarakat muslim Indonesia.
Seharusnya kata Immanuel Husin, Ahok selaku pejabat negara, sepatutnya menjaga perdamaian yang sudah terbangun dengan susah payah.
Ia juga menilai politisi dewasa ini hanya mampu bicara tentang perdamaian, namun sikap dan statemennya untuk menjaga perdamaian masih dipertayakan.
“Politisi jangan hanya tau apa itu perdamaian. Kita perlu tindakan yang sejuk dari pemimpin tanpa kekacauan,” ujarnya.
Disinggung status Ahok yang telah ditetapkan sebagai tersangka, Immanuel Husin menjelaskan, pada prinsipnya penganut kepercayaan Katolik di Aceh Tengah telah sepakat menyerahkan kewenangan penuh kepada penegak hukum.
“Kita harapkan pemerintah di tingkat pusat bisa mengambil kebijakan seadil-adilnya dalam kasus Ahok, dan kasus ini segera tuntas, agar kerukunan beragama di Indonesia dapat terjalin secara baik,” harapnya.
Hari Nusantara Bersatu
Peringatan hari nusantara bersatu yang perdana digelar di halaman Setdakab Aceh Tengah.
Acara itu di buka langsung Plt Bupati Aceh Tengah Drs. Al Hudri, MM dan diikuti tokoh ulama, masyarakat, pemuda, mahasiswa serta di ikuti jajaran SKPK, Forkopimda dan Forkopimda Plus.
Turut hadir dalam acara yang diselenggarakan Se-Indonesia itu ratusan komunitas Tionghoa, penganut agama Kristen dan Katolik.
Dalam sambutannya, Plt Bupati Aceh Tengah Al Hudri meminta agar masyarakat tanoh Gayo untuk menjaga keutuhan NKRI dan menghindari perpecahbelahan antar sesama.
Sementara itu, Ulama Kharismatik Aceh Tengah DR. Mahmud Ibrahim dalam orasinya menegaskan agar tetap menjaga perdamaian kendati latar belakang berbeda.[]

