Senin, Juni 24, 2024

HUT Ke-50 Aceh Tenggara,...

KUTACANE - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Aceh Tenggara membuka stan pelayanan...

Atlet KONI Aceh Rebut...

BANDA ACEH - Prestasi mengesankan ditoreh atlet binaan KONI Aceh yang dipersiapkan untuk...

Realisasi Pendapatan Asli Aceh...

BANDA ACEH - Realisasi Pendapatan Asli Aceh (PAA) tahun 2019-2023 melampaui target. Akan...

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...
BerandaNewsKata Sejarawan Nia...

Kata Sejarawan Nia Deliana Tentang Orang Tamil di Aceh

BANDA ACEH – Kandidat doktor jurusan Sejarah dan Peradaban di Universiti Islam Antarbangsa Malaysia (UIAM), Nia Deliana, mengatakan, Tamil adalah sebuah etnik dan wilayah di India selatan. Dipercayai mereka merupakan keturunan dari bangsa Dravidia. Tamil juga dapat ditemui di beberapa tempat lainnya seperti di Sri Lanka dan Maladewa.

Hal itu dikatakan Nia Deliana dalam sebuah acara bertajuk “Diskusi Sejarah: Tamil Muslim di Sumatra Abad ke-19, Sebuah Kajian Awal” di lingkungan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Sabtu 6 Januari 2018. Nia mengatakan, di wilayah Indonesia, Tamil tersebar di wilayah Medan, Jambi, Surabaya, Aceh, dan Jakarta. Tamil di Aceh lebih dari sekedar partner dagang, mereka juga tersebar di Semanjung Malaka.

“Di Sumatra, Tamil ada di Deli, Serdang, Langkat, Padang. Sebagian besar mereka beragama Islam dan sebagian kecil beragama Hindu, Sikh, Buddhisme, Jainisme, Katolik, dan Protestan. Dibandingkan dengan nasib mereka di Malaysia, di Indonesia hak-hak mereka diakui dan diberikan setara dengan pribumi,” kata Nia dalam makalah yang sebelumnya pernah disampaikan di acara “Konferensi Internasional: Migrasi Paksa dan Kajian-Kajian Kepengungsian” yang diadakan oleh UIAM pada 5 Desember 2017.

Nia yang juga sukarelawan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki), mengatakan, beberapa tempat kediaman Tamil di Aceh merupakan hadiah Sultan, seperti di Burung, Samalanga, Meureudu, dan beberapa daerah lainnya di Pedir (Pidie).

“Pada 1803-1805, ada perkebunan lada baru yang dibuka di pantai Barat dan selatan Aceh. Orang Tamil ada yang pindah ke wilayah tersebut sebagai petani dan pedagang. Di Selatan dan Barat Aceh, kelompok Tamil punya pimpinan sendiri yang terlihat berselisih dengan Sultan,” kata Nia Deliana dalam diskusi yang diinisiasi oleh Aceh Forum for Study of Islamic Civilization (AFSIC) dan partner tersebut.

Di Aceh, kata Nia, ada beberapa orang tokoh di masa Kesultanan Aceh Darussalam pada kurun waktu 1800-1870, merupakan turunan Tamil, di antaranya adalah Poh Salleh (c.d 1803), Lebbai Dappah (c.c 1840s), Tuwanku Pakeh Hussein (c.d 1840s), Sidi Muhammad (d.c 1870s), Muhammad Ghauts (t. 1846-1850s), dan Ramasamy yang dikenal sebagai Panglima Tibang (d. 1873).

“Pengaruh orang Tamil di Aceh mulai menurun ketika hegemoni Eropa ke anak Benua India, perubahan jaringan dagang, regulasi perdagangan, dan dubukanya pelabuhan baru. Traktat 1819, 1824, 1856, 1871, dan India Mutiny 1857 juga melemahkan pengaruh Tamil di Aceh. Dan saat itu, Tamil muslim dan non-Muslim dijadikan kuli paksa kolonial,” Kata Nia dalam diskusi sejarah yang dihadiri puluhan orang tersebut.[]

Baca juga: