“Sebenarnya kita juga sudah tahu dia melakukan banyak kesalahan, tapi enggak sadar dia. Sudah begini mau apalagi,” sesal seorang teman.

“Kenapa tidak kau ingat atau kau nasihati. Kalau sudah begini kan jadi kasihan,” tandas saya.

“Enggak enak aku, takut dia tersinggung atau malah dianggap iri,” imbuh kawan itu.

Sahabat!!!

Hal di atas amat sering terjadi. Kesungkanan, keengganan atau rasa apapun. Sesungguh semua rasa itu hanya benar-benar rasa. Ia cenderung membuat kita kehilangan rasional. Perasaan itu membuat kita bertindak naif.

Hal yang seharusnya tidak perlu terjadi. Menjadi nyata akibat rasa itu. Menjadi gagal disebabkan rasa itu.

Padahal, hakikat seorang teman. Atau sebagai manusia adalah saling melengkapi. Konon lagi jika yang kita rasakan menyangkut orang-orang kita kenal. Orang- orang yang lazim berinteraksi. Amatlah layak kita hilang rasa itu. Sebab jangan merugikan atau merusak hal-hal baik.

Posisi nyaman atau terjepit. Kadang orang butuh pemberi nasihat. Jika tidak, kepanikan atau rasa nyaman menjerumuskan. Apapun tanggapannya lakukan tugasmu.

Jika rasa enggan, sungkan atau perasaan tak enak. Atau takut di-imej negatif. Semua masih berupa rasa. Apa jadinya tanpa peringatan kita malah telah menghancurkan dia. 

Maka penyesalanlah akan lebih membuat kita luka. Penyesalan bagi kita dan dirinya. Padahal, jika kita ingatkan. Walau dia menolak. Maka kita akan bebas dari rasa berdosa. Dan bila didengar sungguh betapa bahagianya kita telah menjadi penyelamat.

Jagalah segala sesuatu sebelum benar-benar rusak. Sebab kerusakan itu merugikan. Meninggalkan luka dan penyesalan.[]