SUBULUSSALAM – Jumlah kawanan gajah liar di kawasan Kota Subulussalam terus berkurang dalam 13 tahun terakhir. Tercatat dari delapan ekor, enam di antaranya mati sejak 2006 lalu. 

“Dari seluruh kawanan gajah, ada delapan, hanya ada dua dari mereka yang tersisa, sepasang jantan dan betina,” kata Zbynek Hrabek atau akrab disapa Binyik, mewakili dua lembaga Eropa Green Life dan Blue Life dalam siaran pers diterima portalsatu.com/, Minggu, 23 September 2018.

Binyik mengatakan, pihaknya telah lama memonitor keberadaan delapan kawanan gajah liar di wilayah Subulussalam. Pada tahun 2006 dua ekor meninggal karena terjebak dan terperangkap.

Kondisi sama kembali terulang dua tahun berikutnya, lagi-lagi dua gajah mati akibat terperangkap dan terjebak. Kemudian tahun 2011, dua gajah liar kembali meninggal, kali ini diduga akibat diracun di lokasi perkebunan kelapa sawit PT Laot Bangko.

Lalu pada tahun 2013 dua gajah yang tersisa meninggalkan zona aman, mereka berpisah karena gajah betina sedang hamil mencari lokasi aman untuk melahirkan.

“Itu adalah perilaku alami bahwa gajah betina hamil mencari tempat yang tenang, jauh dari anggota lain untuk melahirkan. Dia mengambil jejak lama di perkebunan yang baru ditanam,” ungkap pria kebangsaan Republik Ceko ini.

Binyik menyebutkan, beberapa tahun belakangan ini perusahaan besar seperti PT Laot Bangko dan Matras telah memulai perkebunan kelapa sawit dan menggali parit besar untuk melindungi kebun mereka. Kondisi ini menjadi masalah bagi gajah menyebabkan mereka kesulitan kembali ke hutan.

“Saat ini, mereka (kawanan gajah) masih ada di perkebunan, mencari makanan. Mereka tidak punya pilihan, untuk mencari makanan yang dekat dengan desa seperti pisang atau perkebunan lainnya. Tidak ada makanan lain untuk mereka,” ujarnya.

“Orang-orang di desa tidak tahu harus berbuat apa. Mereka takut, dan mereka berpikir untuk meracuni kawanan gajah tersebut,” kata Binyik menambahkan.

Ia menegaskan, pihaknya akan melindungi dua gajah liar tersebut, masyarakat tidak diizinkan membunuh hewan tersebut.

“Kami harus melindungi dan membantu keluarga gajah ini, ibu terakhir dari suku ini dengan bayinya, agar mereka dapat melanjutkan siklus kehidupan,” ujar Binyik. []