IDI RAYEK-  Setelah Pemkab Aceh Timur menangani konflik antara gajah dengan manusia di pedalaman Peureulak, kali ini sekawanan gajah liar dikabarkan mengamuk di Gampông Sijudo, Kecamatan Pante Bidari di pedalaman Aceh Timur.

Aksi hewan bertenaga turbo itu telah merusak puluhan hektar area pertanian milik warga. Bahkan kondisi itu membuat petani tidak berani ke kebun.

Informasi dihimpun portalsatu.com, kawanan gajah liar itu mulai memasuki area pertanian warga sejak 5 Juni 2016 lalu. Sampai saat ini warga terus mewaspadai adanya aksi gajah liar susulan. Pasalnya gerombolan gajah itu masih berada di seputaran Gampông Sijudo.

“Yang kami lihat di sana berjumlah puluhan ekor dengan ukuran sangat besar-besar, kawanan gajah itu berdatangan ke ladang kami mulai sore sampai malam dan sampai sekarang masih terjadi seperti itu, melihat kondisi demikian kamipun beberapa petani memutuskan untuk tidak masuk dulu dalam perkebunan,” ujar Abdul Karim, salah satu petani asal Kecamatan Simpang Ulim kepada portalsatu.com, Kamis, 9 Juni 2016.

Karim mengaku, efek dari kebrutalan kawanan gajah tersebut membuat aktivitas petani di sana terhambat. Bahkan beberapa petani juga merasa rugi lantaran hasil tanamannya habis dirusak gajah. “Kalau kita perhitungkan puluhan  hektare sudah dirusak, selain itu mereka juga merusak jambo (gubuk) kami,” katanya.

Sampai saat ini kata Karim, belum ada yang berani menghalau kawanan gajah liar tersebut karena jumlah mereka diperkirakan terus bertambah. Ia juga mengatakan belum ada penanganan khusus dari pihak manapun untuk mengatasi kawanan poe meurah itu.

“Kami heran juga gajah itu datang dari mana,  sebelumnya  belum pernah gajah itu mengamuk di kawasan kami ini,” tambah Karim yang mengaku telah berkebun sejak tahun 2007 lalu.

Sementara itu secara terpisah Kadis Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Aceh Timur Iskandar, mengatakan dalam waktu dekat bakal menurunkan tim dari CRU Serbajadi untuk menghalau gajah liar itu. Namun penanganan kali ini tidak mengunakan gajah jinak karena mengingat lokasi yang terpisah sangat jauh dengan CRU.

“Menanggapi informasi tersebut kami akan berupaya secepatnya  untuk menurunkan tim dari CRU,  namun mengusir gajah kali ini kita libatkan pawang gajah dulu, dan akan diusir secara alami bisa saja dengan mengunakan mercon atau meriam bambu,” katanya.

Iskandar juga mengaku jika penanganan secara alami gagal, tidak tertutup kemungkinan pihaknya bersama BKSDA akan mencari langkah lain dengan menurunkan gajah jinak ke lokasi. “Jika upaya tersebut tidak bisa teratasi maka setelah itu akan kita koordinasi lagi dengan BKSDA, bisa saja gajah jinak akan kita kerahkan kesana,” kata Iskandar.[](ihn)