PULO ACEH – Angin berhembus dari laut menerpa wajah kami, secara tidak sengaja dari arah kiri dan kanan terlihat panorama alam yang masih suci dan belum ada manusia yang mencoba untuk mengkontaminasinya. Pulo Aceh atau sering orang memberi lakap sebagai surga dunia yang terlupakan, ya, pulo itu letannya di bagian ujung Aceh paling barat.
Alam tersebut menyimpan sejuta pesona yang masih belum terekplorasi, contohnya saja kehidupan laut yang masih sangat alami dan warga di sana cukup baik dalam menjaga dan merawatnya, ikan-ikan hias begitu ceria bermain di atas perairan semakin menjadikan pamandangan begitu memukau yang membuat setiap mata enggan sekali berkedip saat melihatnya.
Belum banyak orang yang mengunjungi pulau ini, dikarenakan akses yang masih sangat terbatas. Untuk bisa sampai ke pulau surga ini, orang hanya mengandalkan satu buah boat dan satu kali berlayar dalam sehari, itupun harus rela basah-basah karena diterjang percikan ombak. Hal ini sungguh sangat disayangkan, menginggat Aceh saat ini adalah salah satu daerah yang masih merasakan otonomi khusus.
Seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, Insya Allah kalau ingin berangkat haji kita sekarang sudah punya kapal pesiar sendiri, dan jika mau ke Pulo Aceh kita naik boat saja, walaupun saat tiba disana baju sudah dalam keadaan basah digigit ombak-ombak laut yang menantang maut, ya mau apalagi, nikmati saja.
Seharusnya dengan pemandangan yang begitu memajakan mata yang disajikan di pulau itu, pemerintah bisa melihat melalui kacamata positifnya potensi yang luar biasa untuk dikembangkan, Pulo Aceh bisa disulap menjadi destinasi wisata bagi turis dalam negeri dan manca negara, hal Ini juga langkah tepat yang bisa dilakukan pemerintah untuk menambah devisa daerah, dengan lokasi wisata ini Aceh memiliki mahkota baru yang bisa dibanggakan.[]
Laporan: Teuku Mukhlis, anggota ASHaF (Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri), ditulis dalam acara Kemah Sastra Hamzah Fansuri, 20-23 Februari 2016, Pulo Aceh, Aceh Besar.


