Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaNewsKeluarga Pedagang Manisan...

Keluarga Pedagang Manisan Keturunan Pakistan

ITA Purwita Sari, Amd merupakan mahasiswi semester akhir Jurusan Akuntansi di Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh. Selain menjadi mahasiswi yang disibukkan dengan urusan kampus, perempuan yang disapa Ita ini juga sudah berdagang sejak menduduki bangku SMA.

“Keluarga saya rata-rata pedagang dan pengusaha, satu kakak ipar yang berstatus PNS guru SMA di Aceh Selatan,” kata Ita saat ditemui portalsatu.com di kediamannya di Rukoh, Banda Aceh, Kamis, 8 Oktober 2015.

Keluarga Ita memiliki garis keturunan Pakistan, kakek sebelah ibunya merupakan warga Pakistan, nenek dan ibunya orang Medan. Sementara ayah Ita asal Meulaboh, Aceh Barat dan Ita lahir dan besar di Banda Aceh.

Mahasiswi kelahiran Banda Aceh, 5 September 1992 ini fokus jualan mangga sejak 2006. Sebelumnya mereka menjual Mie dan Bakwan. Karena kenaikan harga sembako terus meningkat, Ita dan ibunya beralih menjual buah-buahan yang dibungkus dalam kertas dengan harga jual Rp. 5 ribu per bungkus.

Keluarga Ita memang sudah dididik dengan jiwa dagang sejak kecil oleh kedua orangtuanya. Abanngnya yang pertama menjual keripik, ada yang berjualan kerupuk jengek yang berbahan baku sama.

“Kami dari kecil sudah di didik menjadi jiwa pedagang, karena mamak bilang kita bukan dari orang kaya, kalau tidak mau berjuang tidak bisa hidup, minimal ada kerja biar bisa hidup mandiri,” ujar Ita mengutip nasehat ibunya.

Ita hanya tinggal berdua dengan ibunya, sementara ayah perempuan yang hoby membaca novel ini telah tiada sejak usia Ita masih berumur 10 hari. Anak pasangan almarhum Abdurrahman dengan Rokayah ini merupakan anak bungsu. Ia anak ke 12 dari duabelas bersaudara yang terdiri dari tiga perempuan dan sembilan laki-laki. Namun tiga abang laki-lakinya telah meninggal dunia sejak masih bayi dan kini tinggal sembilan yang masih hidup.

Ita berjualan dari Senin hingga Jumat. Sementara Sabtu Minggu ia kuliah di Unmuha. “Jualan setiap hari, tetapi kalau stoknya sudah habis saya memproduksinya dirumah, mamak yang jualan, kadang juga gantian. Kalau hari Sabtu dan Minggu saya masuk kuliah, kuliah harus fokus juga karena sudah masuk semester akhir,” ujarnya. [] (mal)

Baca juga: