Kamis, Juli 25, 2024

BI Lhokseumawe Gelar ToT...

LHOKSEUMAWE - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe bersama Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota...

PPK Sawang: Uang Operasional...

ACEH UTARA - Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sawang di bawah Komisi Independen Pemilihan...

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...
BerandaNewsKisah Ita Purwita...

Kisah Ita Purwita Sari dengan Ragam Cita-Cita

NAMANYA Ita Purwita Sari. Mahasiswi cantik ini berharap bisa memiliki sebuah restoran, ingin memiliki toko, dan membuka sekolah alam bersama ibunya. 
Ia ingin memiliki toko yang akan menjual barang dagangannya dan sedang mencari tempat yang strategis.

“Saya ingin punya toko supaya bisa membantu yang lain, apalagi sekarang ekonomi turun, suku bunga rendah, harga dolar naik, dan saya dengar-dengar 2016 nanti harga BBM naik lagi, lantas apa yang ditunggu? ” kata mahasisiwi semester akhir ini.

Ita mengakui senang menjalani hidup seperti sekarang ini. Karena menurutnya, belum tentu orang lain berani seperti dirinya.“Saya tidak merasa minder, saya percaya diri dan dengan berjualan ini saya banyak mengenal orang dan bisa menilai karakter kepribadian orang yang berbeda-beda,” katanya.

Ita juga ingin mengembangkan usaha dagang buah ini bersama ibunya, namun kendalanya pada dana. Setiap harinya mereka menyediakan stok untuk mengolah aneka buah ini kalau Mangga 50 kilo perhari dan 20 hingga 30-an kilo untuk jambu, salak, kedondong, cermai, dan ketela untuk membuat serundeng atau ubi rambat.

Setiap harinya mereka memperoleh untung Rp. 250 ribu. Namun, alumni paduan suara di Politeknik Aceh ini mampu membiayai semua biaya SPP kuliahnya dari hasil dagang yang ia kerjakan bersama ibu nya, Rokayah.

Selain ingin memiliki toko dan restoran, perempuan yang lihai mengolah makanan ringan ini juga memiliki cita-cita lain, yaitu ingin mendirikan sekolah alam.

“Saat konflik Aceh dulu, saya berada di Riau, sepulang dari sana pada tahun 2005, ntah kenapa saya ingin mendirikan sekolah alam di Banda Aceh,” kata perempuan bernama lengkap Ita Purwita Sari ini.

Menurutnya, memiliki sekolah yang belajar outdoor atau luar ruangan membuat siswa tidak terkekang dan terkotak-kotak dalam bangunan gedung sekolah. Ia ingin mengajarkan langsung pada anak-anak di alam terbuka. “Jadi ntar langsung praktek, dan siswa pun bisa langsung mengenal alam dan menjaga lingkungan sekitarnya,” ujar Ita.

Ketika ditanya cita-cita kedepan ingin menjadi apa, dengan lantang Ita menjawab “saya ingin sekali kerja di perusahaan tetapi bukan PNS, perusahaan yang menerima basic dan passion saya di bagian akunting karena jurusan yang saya ambil adalah akuntansi,” katanya.

Ia juga mengatakan kenapa bisa tetap bertahan dan sepede ini karena motivasi dari ibunya. “Kata mamak saya, apapun yang terjadi jangan pernah menyerah, ini yang selalu mamak ajarkan ke saya, jangan pernah menyerah,” ujar Ita. 

Baca juga: