LHOKSEUMAWE- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe meninjau lokasi kematian ikan di kawasan Pelabuhan Umum Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, dan Gampong Blang Naleung Mameh, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Rabu, 19 Februari 2020.
Kasi Pengawasan Pengendalian dan Pemulihan DLH Kota Lhokseumawe, Dwi Silviana, mengatakan, pihaknya baru Rabu meninjau langsung ke lokasi, karena sebelumnya belum menerima laporan atau pemberitahuan dari masyarakat terkait dengan kematian ikan tersebut.
“Jadi, kami mendapatkan informasi dari salah satu media massa yang menyampaikan bahwa terjadi banyak ikan mati di pinggiran laut yang berada di Gampong Blang Naleung Mameh. Kejadian itu sudah beberapa hari lalu yang ditemukan ikan mati oleh nelayan setempat. Berdasarkan hasil pantauan kita di lapangan bahwa kami tidak menemukan lagi sisa ikan atau ikan yang mati sepanjang pesisir itu,” jelasnya.
Menurut Dwi Silviana, dari informasi diperoleh juga banyak ikan yang mati itu di sebelah Pelabuhan Krueng Geukueh. Mengingat rentang waktu kejadian sudah agak jauh dengan pantauan yang dilakukan tersebut, sehingga pihaknya tidak bisa menyimpulkan dugaan terkait penyebabnya. “Karena sekarang di lokasi tampak sudah tidak ada lagi ikan mati di kawasan tersebut, maka jika ingin melakukan (mengambil) sample, dan manfaatnya juga tidak ada”.
“Lagi pula beberapa hari terakhir ada hujan dan panas, itu kan membuat air laut cepat sekali dinetralisir. Jadi, hasil verifikasi kami untuk dugaan atau hal yang menduga-duga belum bisa kita sampaikan bahwa itu kesalahan siapa. Akibat apakah dari limbah dan di situ paling dekat adalah PT PIM, itu juga tidak bisa kami pastikan karena tidak melakukan pengambilan sampel mengingat di lapangan sudah tidak ada apa-apa lagi,” ujar Dwi Silviana.
Menurut Dwi, memang dari pengakuan nelayan di kawasan itu bahwa kejadian serupa bukan kali ini saja, tapi sudah berkali-kali. Bahkan, dalam satu bulan bisa dua kali kejadian itu. Terkait apakah ada tercampurnya air laut dengan limbah itu pihaknya tidak dapat memastikan dikarenakan tidak ada pengujian laboratorium.
Sementara itu, Direktur Utama PT PIM, Husni Achmad Zaki menjelaskan, operasional pabrik berjalan dengan baik. Memang ada limbah dari pencucian granulator yang walaupun telah diantisipasi, sedikit keluar ke laut.
“Hal ini telah kami perbaiki dan kondisi air laut segera normal kembali. Kami mohon maaf jika terjadi ketidaknyamanan dari nelayan di sekitar PIM. Namun, langkah perbaikan telah kami lakukan agar hal ini tidak terjadi lagi kedepannya,” ujar Husni Achmad.
Sementara itu, Manajer Humas PT PIM, Nasrun, mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pengambilan sampel air laut di empat titik pada 18 Februari 2020, lalu. Lokasi itu yakni area pelindo PH 8,32, area dermaga PIM PH 8,43, area Asean PH 8,35, dan area ujung pelabuhan PH 8,25.
“PH air laut 8,43 kondisi aman, penyebab ikan mati di pelabuhan umum saya tidak mengetahui sumbernya dari mana,” ungkap Nasrun.[**]




