BANDA ACEH – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis jumlah penduduk usia produktif di Aceh antara 16 sampai 40 tahun mencapai setengah (50 persen) dari jumlah penduduk, sementara lapangan kerja yang tersedia sangat minim.

Hal ini menarik perhatian pengusaha muda di Banda Aceh, Tuanku Warul Waliddin, yang mengaja para anak muda Aceh untuk mengasah jiwa entrepreneur. Menurutnya, kesenjangan jumlah penduduk usia produktif dengan ketersediaan lapangan kerja yang minim, akan menjadi ancaman bagi stabilitas kehidupan masyarakat Aceh nantinya.

“Perebutan sumber-sumber ekonomi akan sulit dihindari. Kriminal atau premanisme ringan sampai yang sangat serius dikhawatirkan akan menjadi ancaman di masa depan. Sadar atau tidak pada hari ini kita telah memasuki era digital yang sering di sebut era industri 4.0,” jelasnya.

Warul Waliddin menambahkan, di tengah serbuan kemajuan tekhnologi dan pasar yang semakin bebas, maka dituntut insting membaca dan memahami pasar bagi anak muda agar mampu bersaing dengan meninggalkan  zona nyaman yang hanya berharap lapangan  pekerjaan.

“Anak muda Aceh harus sadar dan mampu membawa diri dan mengambil bagian dalam persaingan era industri 4.0.  Aceh sekarang menjadi menjadi provinsi termiskin di sumatera juga disebabkan banyaknya pengangguran dalam usia produktif,” tambahnya.

Padahal kata Warul Waliddin, Aceh pada masa lalu terkenal dengan kehebatan para saudagarnya. Para pengusaha Aceh masa lalu bahkan mampu mendanai dan menyumbang modal untuk Republik Indonesia.  Kemampuan ekonomi orang Aceh dahulu di atas rata-rata nasional, berbeda dengan Aceh hari ini yang menjadi salah satu  daerah termiskin di Indonesia.

Warul Waliddin mencontohkan, saat yang daerah lain belum mampu menyumbang pesawat, orang Aceh mampu menyumbang 2 pesawat sekaligus yang menjadi cikal bakal lahirnya BUMN terkemuka yaitu Garuda Indonesia.

“Garuda Indonesia yang bermodalkan emas rakyat Aceh harusnya bukan sekedar menjadi cerita nina bobok bagi generasi Aceh masa kini, harusnya ini menjadi pemicu dan motivator bagi generasi Aceh hari ini untuk bangkit dan membuktikan diri bahwa kita mampu dan pantas menjadi generasi saudagar yang kemampuan ekonominya diatas rata-rata nasional,” tegasnya.

Selain itu tambah Warul Waliddin, bukan tanpa sebab Pangeran Abu Dhabi tertarik merencanakan investasi besar-besaran di Aceh. Ada banyak faktor yang tentunya tidak terlepas dari kemampuan hubungan dagang orang-orang Aceh dahulu dengan warga di belahan dunia lainnya. Ini sudah terbukti mampu dilakukan generasi Aceh di masa lampau.

Masih menurut Warul Waliddin, fenomena hari ini Aceh kebanjiran tokoh-tokoh politik, namun krisis tokoh-tokoh saudagar. Hingga di banyak organisasi-organisasi kepemudaan maupun organisasi kewirausahaan hanya menjadi tangga atau batu loncatan bagi para calon politisi-politisi untuk meniti karirnya. Namun sangat minim  tokoh-tokoh pengusaha muda di Aceh yang diberi kesempatan untuk menjadi caretaker dalam berbagai organisasi.

“Akhirnya sangat dilematis bila kita melihat Aceh hari ini kebanjiran politisi namun minim saudagar. 1 politisi hanya mampu memberi 1000 janji, namun 1 saudagar berkemungkinan membuka 1000 lapangan pekerjaan. Semoga ini harus menjadi renungan kita di era milenial ini,” pungkasnya.[**]