Oleh: Taufik Sentana
Peminat Kajian Sosial dan Budaya

Pada galibnya, kemiskinan hanyalah kondisi yang terlemahkan oleh satu kondisi lainnya. Entah itu terlemahkan oleh pertikaian, perang, sistem yang rusak atau kondisi personal yang dilingkupi oleh warna kemiskinan. 

Yang paling radikal adalah, adanya faktor pendidikan yang diakui bisa menjadi pemutus mata rantai kemiskinan. Mulanya “ya”, menurut penulis, bila sistem yang melingkupi person yang “berbakat” miskin tadi merupakan sistem yang sehat dan tidak rakus. Tapi negatifnya, pendidikan bisa menjadi “imperialisme dan penjajahan baru” dalam sistem sosial kita (Ziauddin Sardar). 

Ilusi kemakmuran

Artinya pendidikan yang kita maknai dan kenal secara umum hanya berujung pada upaya menyangga kapitalisme global dengan bahasa industrialisasi (sekarang fase industri 4.0, bukankah begitu?). Dan ini sejatinya tidaklah menjadi pelepas tali kemiskinan, melainkan ilusi kemakmuran. Misal, saat negara kita terikat dengan utang dalam membangun capaian “pembangunannya”. Apalagi utang tersebut menjadi lipatan riba dan bunga secara simultan.

Maka selama bingkai struktur berpikir kita masih mengacu pada paradigma di atas, akan sulit rasanya terlepas dari sebutan kemiskinan. Ditambah pula dengan indakator tidak miskin diukur dengan tingkat konsumsi tinggi. Sebagaimana disebutkan pula bahwa di antara penyumbang kemiskinan adalah harga kebutuhan pokok yang meningkat (termasuk pendidikan dan kesehatan) dan pada satu media, disebutkan bahwa  konsumsi rokok juga termasuk penyumbang kemiskinan (padahal pengusaha rokok menjadi orang terkaya, inilah contoh rancu dalam sistem kita).

Jadi, kemiskinan memang menjadi musuh kita, sebab ia berpeluang membawa pada kekufuran. Hanya saja, hal ini butuh kerja bersama dan pemikiran kolektif serta visi kesejahteraan bersama dengan landasan keyakinan yang kita sepakati. Dan dalam sistem yang sehat, kemiskinan bisa menjadi kemuliaan karena sifat sabar, rida, tidak dengki, berhias ilmu dan akhlak. Karena, “si miskin” yakin bahwa banyak saudara (sistem sosialnya) yang akan menolongnya, selama ia terus memaksimalkan segala yang terbaik dari dirinya. 

Namun, dalam sistem yang sakit, kekayaan hanya berputar dalam lingkaran yang sama, lingkaran itu tidak membesar dan tidak melebar. Akibatnya, kemiskinan dianggap sebagai “penyebab” kejahatan. Fatalnya lagi, kemiskinan hanya menjadi materi diskusi dan megaproyek pengentasan dengan beragam pengumpulan data dan program-program musiman.[]