Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaKenapa Kader Demokrat...

Kenapa Kader Demokrat Merasa SBY Jadi Tertuduh Dalang Kerusuhan?

JAKARTA – Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi, heran kenapa Partai Demokrat merasa ketua umumnya, Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai tertuduh saat Presiden Joko Widodo menyinggung mengenai aktor politik yang menunggangi kerusuhan dalam aksi unjuk rasa 4 November.

Hal tersebut disampaikan Johan dalam acara “Satu Meja” di Kompas TV, yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi Kompas, Budiman Tanuredjo, Senin (5/12/2016).

Awalnya, Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan menyinggung pidato Jokowi yang menyebut ada aktor politik yang menunggangi kerusuhan dalam demo.

Syarief menagih penjelasan dari pemerintah mengenai siapa aktor politik yang dimaksud Jokowi.

“Terus terang saja hampir dikatakan semua media dan masyarakat seakan-akan tembakannya ke Demokrat,” ucap Syarief.

Johan pun langsung mempertanyakan pernyataan Syarief tersebut. Ia menegaskan bahwa Jokowi tak pernah menyebut nama, termasuk SBY, saat menyampaikan pernyataan mengenai aktor politik itu.

“Kenapa kok Pak Syarief Hasan merasa yang dituduh Pak SBY? Padahal Presiden tidak menyebut. Artinya ada rasa dalam Pak SBY seolah olah kericuhan yang kemarin ada kontribusi,” ucap Johan.

“Tidak make sense (masuk akal) kalau merasa Pak Jokowi harus menjelaskan bahwa aktor politik itu bukan Pak SBY,” kata dia.

Syarief mengaku sepakat dengan pernyataan Johan tersebut. Oleh karena itu, Syarief berharap apabila Jokowi dan SBY bisa bertemu empat mata, maka bisa sekaligus mengklarifikasi isu yang berkembang.

Namun, Johan merasa bahwa klarifikasi tidak diperlukan.

“Kalau memang ketemu, tidak ada klarifikasi karena tidak perlu diklarifikasi,” ucap Johan. [] sumber: Kompas.com

Baca juga: