Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
BerandaKenapa Kita Disuruh...

Kenapa Kita Disuruh Bilang “Cheese” Saat Difoto?

Foto adalah bentuk seni tersendiri. Sudut pengambilan (angle), pencahayaan, komposisi, -semuanya bisa menentukan kesempurnaan sebuah foto.

Namun berapa pun usia kita, pasti pernah mendengar “perintah” klasik saat juru foto mengambil gambar, yaitu “cheese!“.

Dan, umumnya kita meresponsnya dengan senyum lebar sambil mengatakan, “chesse!”.

Jadi, mengapa kita menggunakan ungkapan ini saat berfoto?

Menurut TodayIFoundOut, ide mengatakan “cheese” saat berfoto pertama kali muncul sekitar tahun 1940-an.

The Big Spring Herald, sebuah surat kabar di Texas, mencetak sebuah artikel yang mereferensikan ungkapan tersebut, pada tahun 1943.

Tidak ada yang tahu pasti siapa penggagas ide tersebut dan alasan mengapa kata-kata tersebut digunakan.

Namun, satu hal yang pasti bahwa saat mengucapkan kata tersebut secara tak sengaja kita akan tersenyum.

Penyebutan konsonan “ch” membuat gigi atas dan bawah menyatu, serta pelafalan bagian vokal “ee” melibatkan gerak bibir membuat ekspresi wajah yang menyerupai senyum.

Pada abad ke-19, hanya anak-anak, petani, dan pemabuk yang tersenyum dalam foto.

Semua orang menjaga wajah mereka tetap netral, yang dianggap menarik dan bermartabat saat itu.

Itu bukan satu-satunya alasan orang tidak tersenyum saat berfoto. Pada saat itu, butuh waktu beberapa jam atau bahkan hari, hanya demi mengambil satu foto.

Seperti yang bisa kalian bayangkan, tentu tak akan mungkin untuk mempertahankan senyum selama itu demi sebuah foto.

Apalagi, kebersihan gigi bukanlah prioritas di zaman itu, dan kebanyakan orang tidak ingin memamerkan mulut yang penuh dengan gigi yang hilang atau rusak.

Foto saat itu juga menjadi barang mahal, artinya rata-rata orang hanya berpose untuk satu atau dua foto seumur hidup mereka.

Karena ini, adalah kesempatan yang sangat penting, setiap orang berusaha yang terbaik untuk foto tersebut, termasuk ekspresi tanpa senyum.

Namun, popularitas foto tanpa senyum ini tidak bertahan lama. Popularitas tersebut mulai sirna sejak penemuan kamera pada tahun 1900-an yang saat itu seharga satu dolar AS atau jika dikonversi dengan kurs sekarang sekitar Rp 13.500.

Seiring dengan bangkitnya industri film Hollywood, memungkinkan semakin banyak momen “sehari-hari” untuk ditangkap di film.

Oleh karena itu, senyum pun menjadi penting saat berfoto.`| sumber : kompas

Baca juga: