Semua guru tentu telah cakap dan andal di bidang yang ia ampu. Mereka juga khususnya memilki kecakapan secara linguistik-verbal, mudah bergaul, berwawasan dan menyifati karakter pembelajar. 

Sebagaimana halnya bicara, menulis juga bagian yang tak terlepas dari aktifitas guru. Minimal para guru perlu menuliskan dengan runut sajian pembelajaran siswa, menulis jurnal kelas, atau sekadar menyiapkan karya tulis wajib untuk kepangkatan tertentu.

Secara periodik beberapa instansi ada membuat lomba khusus menulis dengan bidang yang beragam. Dari menulis buku paket, inovasi pembelajaran ataupun karya ilmiah. Hanya saja rangsangan eksternal tersebut, dan memang masih minim, belum dapat mendongkerak kinerja guru dalam bidang kepenulisan. Sebagian kota sudah ada yang membuat program menulis secara berkala dan diapresiasi saat Hardikda setempat. 

Selain adanya instrumen luar yang mendukung karya tulis seorang guru, kiranya, sikap sang guru sendiri untuk merasa perlu dan eksis menulis merupakan faktor penentu. Walaupun selalu ada alasan klise: mau nulis apa, saya gak sempat, kerja guru saja sudah banyak, dst.

Jadi menurut hemat kami, sikap internal sang guru perlu disentuh terlebih dahulu. Sebab, dari segi kemampuan dan pengalaman pada bidang tertentu sudah bisa kita akui. Sang guru hanya perlu sedikit waktu dan lompatan ide spontan untuk menulis secara berkala. 

Tentu materi awal tulisan adalah seputar aktivitas dengan siswa dan lingkungan sekitar. bisa berupa puisi, cerpen dan beberapa catatan pengalaman di kelas. Bisa juga berupa ringkasan materi ajar, opini bebas ataupun ulasan mendalam tentang masalah tertentu.

Setidaknya, seorang guru dapat menginvestasikan satu atau dua jam waktunya untuk menulis, minimal dalam seminggu. Dan saat tulisan itu mengalir, tetaplah dituliskan tanpa ada edit dan perbaikan disana sini, bahkan dibebaskan mau nulis apa saja yang tidak melanggar norma. Setelah tertulis semua, barulah kita bandingkan dengan referensi lain atau kita perbaiki secara bertahap.

Dengan demikian seorang akan dapat terhubung dengan masa depan dan menjadi bukti bagi jejak karyanya hari ini. Walaupun akab selalu ada keuntungan finansial dan emosional saat tulisan itu diapresiasi, apalagi bila terkumpul menjadi buku.

Mari, sahabat guru sekalian, menulislah. Biarkan karya terbaik anda abadi![]

Taufik Sentana
Forum Guru Menulis Aceh Barat.
Komunitas Gurusiana Jakarta.
Mengabdi di SMPIT Teuku Umar dan MTs Harapan Bangsa Meulaboh. Telah menulis dua ratus artikel lebih seputar pendidikan dan sosial budaya.