LHOKSUKON – Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara beberapa waktu lalu merendam 13.335 hektare (Ha) sawah, 5.243 Ha persemaian benih, 95 Ha lahan jagung dan 3 Ha lahan kedelai. Kerugian yang dialami petani ditaksir sekitar Rp114.244.975.000.
Hal itu disampaikan Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, Erwandi, Selasa, 15 Desember 2020. Ia mejelaskan jumlah kerugian tersebut masih merupakan angka prediksi. Berdasarkan catatan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, dari 16 kecamatan di Aceh Utara yang terdampak banjir terhadap lahan pertanian, daerah yang terluas terdampak ada di di Kecamatan Baktiya yang mencapai 3.514 Ha dan Baktiya Barat 1.600 Ha, sedangkang lahan sawah kawasan Lhoksukon hanya 119 Ha yang terdampak.
“Secara umum kebutuhan gabah di Aceh Utara sebelum terjadi banjir adalah surplus atau kelebihan gabah. Tapi dengan ada bencana banjir ini maka produksi gabah kita mengalami sedikit akan menurun, karena imbas banjir sehingga ada tanaman padi di sawah yang tergenang air dan akhirnya menyebabkan tanaman menjadi busuk,” kata Erwandi.
Erwandi menambahkann, pihaknya telah meminta kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh supaya difasilitasi olah tanah secara gratis bagi petani. Selain itu, supaya diberikan bantuan sarana produksi berupa bibit, pupuk dan obat-obatan, serta diberikan asuransi untuk melindungi petani dari dampak bencana alam.
“Kita melihat akibat banjir ini bahkan tanaman padi ada yang tidak bisa dipanen seperti di Kecamatan Tanah Luas, karena sudah terendam. Kondisi ini tentunya sama sekali tidak bisa dimanfaatkan oleh petani. Akan tetapi untuk lahan puso atau tidak menghasilkan karena banjir, bahwa sampai saat ini kita belum terdata. Karena untuk menyatakan puso itu harus kita tunggu beberapa hari sampai airnya (banjir) benar-benar surut secara keseluruhan, sehingga kita tahu apakah tanaman itu rusak atau tidak,” ujar Erwandi.
Namun, lanjut Erwandi, sebagian besar sesuai pengamatan pihaknya itu hampir seluruhnya dapat dikatakan rusak, ada yang sedang memasuki masa tanam rendengan, dan ada sebagian kecamatan yang memang sedang panen padi seperti di Kecamatan Tanah Luas dan Syamtalira Aron, Aceh Utara, yang merupakan daerah aliran irigasi Krueng Pase sayap kanan.
“Untuk jumlah total kerugian itu kita perhitungkan dari luas lahan panen padi itu sekitar 261 Ha, dan kita kalikan rata-rata produktivitas per hektar itu ada lima ton. Kemudian, kita kali dengan jumlah harga gabah saat ini sekitar Rp 4.800 per kilogram. Sedangkan tanaman padi lainnya kita hitung berdasarkan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh petani pada saat kondisi seperti sekarang ini, maka dari itulah kita mendapatkan angka atau nilai kerugian tersebut,” ungkap Erwandi.[]



