“Kami Tolak Pungli”. Tiga kata itu tampak jelas pada papan putih yan melekat dengan pagar depan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Nibong, Aceh Utara. Sementara di atas pintu masuk kantor itu tertulis, “Kawasan Zona Integritas, Wilayah Bebas Korupsi (WBK), dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM)”.

Tulisan seperti itu barangkali juga ada di kantor instansi pemerintah lainnya. Akan tetapi, mari kita lihat lebih dekat lagi KUA Nibong. Pada dinding depan sisi kiri pintu masuk kantor tampak banner besar berisi informasi tentang peninggalan sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai. Banner besar atau semacam baliho berisi informasi penting itu tidak terlihat di depan kantor-kantor lainnya di Aceh Utara, sehingga membuat KUA Nibong memiliki nilai tambah.

Kepala KUA Nibong, Tgk. Andi Saputra, memajang banner tersebut agar masyarakat yang berkunjung ke kantor ini mendapatkan informasi dan edukasi tentang tokoh-tokoh Bandar Sumatra (Samudra Pasai) maupun tinggalan sejarah kerajaan Islam itu. Penjelasan dilengkapi gambar yang ditampilkan dalam banner tersebut merupakan hasil penelitian tim Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH).

Di Aceh, tinggalan sejarah yang paling masyhur dan sangat otentik adalah nisan-nisan kuno berinskripsi. Di dalam tulisan itulah banyak informasi penting. Di antaranya, ayat Alquran, hadis-hadis, syair-syair, dan yang tak kalah penting adalah informasi tentang siapa tokoh yang dimakamkan. Belum lagi motif-motif indah menghiasi nisan yang berasal dari banyak budaya.

Nama-nama yang muncul dalam nisan-nisan kuno tinggalan sejarah itu merupakan tokoh-tokoh besar yang berperan penting dalam penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara.

Nisan tokoh-tokoh dalam papan informasi ditampilkan pada dinding KUA Nibong antara lain nisan Sulthan Al-Malik Ash-Shalih (wafat 1297 M), Sulthan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, nisan Sulthan Al-Malik Azh-Zhahir (w. 1326 H), nisan Sulthanah Nahrasiah (w.1428 M).  Selain itu, nisan Sayyid 'Imaduddin (w.1424 M), tokoh keturunan Rasulullah (ahlul bait).

Ada pula nisan-nisan tokoh Samudra Pasai yang dimakamkan di kawasan Kecamatan Nibong. Di antaranya, Al-Amir Husain (w.1427 M), Meurah Sardar Nuh (w.1429 M), Asiah binti Ahmad (1453 M).

Jadi, KUA Nibong turut berupaya mengenalkan kembali Islam yang diwariskan oleh tokoh-tokoh Samudra Pasai, yaitu Islam rahmatan lil 'alamin.

Semangat universalitas itulah faktor utama tentang masifnya penyebaran Islam di Asia Tenggara. “Sesungguhnya Islam yang rahmatan lil 'alamin itulah yang menjadi identitas bagi umat Islam di Asia Tenggara umumnya dan Aceh khususnya, yang biasa disebut dengan 'Wareh Indatu',” ujar Tgk. Andi Saputra, 16 Juli 2018.

Tgk. Andi Saputra berharap langkah edukatif tersebut dapat menjadi model untuk dicontoh instansi pemerintah lainnya, khususnya di Aceh. Menurut tokoh muda yang brilian ini, dengan adanya peran instansi pemerintah memberikan informasi tentang tinggalan sejarah, maka ke depan Aceh akan menghasilkan generasi memiliki identitas yang kuat. Identitas itu tak lain adalah “Islam Rahmatan Lil 'Alamin”.[](idg)

Penulis: Arya Purbaya, Koordinator Ekspedisi CISAH