Di Lapangan Blang Padang, Senin, 6 Agustus 2018 pagi, tiga gajah terlihat sedang berdiri. Sesaat kemudian gajah itu merendahkan tubuhnya, maka naiklah tiga orang ke atas punggung masing-masing gajah. Mereka adalah Plt. Gubernur Aceh, Pangdam Iskandar Muda, dan Wakapolda Aceh.

Puluhan pengawal kerajaan berjalan teratur serentak di depan tiga gajah. Langkah gajah itu bergerak berlahan di belakang. Dari Blang Padang, melewati Museum Tsunami, Museum Aceh, berhenti di sisi selatan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Di depan sebuah panggung, kehadiran gajah-gajah itu telah dinanti oleh Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haytar.

Aminullah Usman, Wali Kota Banda Aceh pagi itu resmi melakukan pelepasan pawai budaya PKA ke-7. Dia mengharapkan pawai budaya tersebut akan membuka perspektif bahwa warisan kekayaan budaya Aceh yang sangat beragam telah menyatukan Aceh sejak dahulu.

“Saya mengajak masyarakat dan semua pihak untuk menyambut PKA ke-7 dengan sebaik-baiknya,” kata Aminullah.

Sementara dalam peraturan atraksi, panitia hanya memberikan waktu untuk masing-masing kontingen dari kabupaten/kota tiga menit.

Di antara kontigen itu datanglah seekor gajah yang dicat warna putih dan terlihat di atasnya duduk seorang lelaki. Ketika tiba di dekat panggung, gajah itupun berhenti.

Sang lelaki itu, penyair dari Linge, melantunkan syair dengan suara lantang:

Heiii…

Datanglah kau gajah putih…

Simbul keikhlasanmu sejernih dan seputih hati…

 Kerajaan Lingge memberikanmu sesembahan…

Heii… bidadari dari ranting ranting kopi…

Heii… salju-salju putih dari merah, daun kopi…

Redupkan negeri ini… damaikan negeri ini…

Sehatkan pemimpin-peimpin kami…

Kembalikan, kejayaan negeri ini...

Sementara itu, di barisan belakang gajah tersebut pemuda-pemuda menggenggam panji Alam Peudeung bertuliskan “Kerajaan Linge”, dan kalimah tauhid. Juga di barisan belakang beberapa anak kecil joki kuda duduk di atas kuda-kuda mereka.[]