HELMI bersyukur, mayoritas santrinya sedang berada di luar kelas maupun asrama saat bencana gempa terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Ahad (5/8) malam. Para santri, ia katakan, sedang melakukan hafalan Alquran. Sebuah rutinitas yang biasa dilakukan bakda shalat Isya berjamaah.

Helmi sendiri merupakan Kepala Yayasan Pondok Pesantren Abu Abdillah Al Islami di Dusun Medas, Desa Medas, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Total ada 75 santri yang tengah menimba ilmu di ponpes yang sudah berusia tiga tahun tersebut. Para santri datang dari berbagai wilayah di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa belajar untuk kategori TK, SMP, dan SMA.

“Alhamdulilah enggak ada anak-anak yang terluka, anak-anak saat kejadian sedang berada di luar, sedang menghafal Alquran,” katanya.

Sebagian santrinya tengah mengaji di mushala ponpes dan ikut berlari ke areal terbuka di ponpes tersebut. Saat kejadian, Helmi tengah menjalankan shalat Isya di rumah hingga saat sujud rakaat terakhir. Teriakan histeris bahwa ada gempa membuatnya panik dan mengamankan keberadaan keluarganya.

Kemudian, ia langsung bergegas menuju ponpes guna memeriksa kondisi para santri dan bangunan ponpes.”Sampai ponpes ternyata bangunan sudah porak-poranda, bisa dibilang 95 persen rusak,”

Namun yang terpenting, ia katakan, kondisi para santri berada dalam keadaan yang sehat. Adanya gempa susulan dan padamnya aliran listrik membuat para santri sempat panik.[]Sumber:republika