Warga di Manshiyet al-Rugola, Mesir telah berjuang selama bertahun-tahun karena kekayaan dunia berlalu begitu saja. Awad, seorang pedagang berusia 31 tahun di sebuah pabrik ikan menunjuk ke arah Terusan Suez, tempat kapal kontainer sepanjang 400 meter bernama Ever Given harus menghentikan lalu lintas di salah satu rute perdagangan tersibuk di dunia pada Selasa 30 Maret 2021.
Awad dibesarkan dan masih tinggal di desa Manshiyet al-Rugola, di mana dia dan penduduk lainnya selama beberapa dekade menyaksikan kapal-kapal besar lewat tanpa insiden, membawa minyak, gas, dan kargo berharga lainnya antara Asia dan Eropa. Banyak waktu dan uang yang dikeluarkan pemerintah dan internasional untuk membuat kapal kembali berjalan.
“Kami berharap beberapa upaya yang dilakukan dapat membuat kapal berada di jalur yang benar untuk menyelesaikan masalah desa,” ujar Awad, dilansir Middle East Eye, Rabu 31 Maret 2021.
Manshiyet al-Rugola telah populer secara global dalam seminggu terakhir. Nama desa ini untuk pertama kalinya ditulis dalam bahasa Inggris di pers internasional.
Warga di Manshiyet al-Rugola dapat dikatakan memiliki tempat duduk terbaik di rumah karena menghadap ke kapal kontainer dalam jumlah banyak yang telah membuat perdagangan dunia gelisah. Namun, di desa ini, sebenarnya tidak berbeda dengan banyak desa tertinggal lainnya di seluruh Mesir.
Kebanyakan sopir taksi akan menolak untuk memasuki Manshiyet al-Rugola karena jalan yang bergelombang. Pada akhirnya, hanya kendaraan seperti tuk-tuk, mobil pribadi, dan kereta kuda dapat menjadi pilihan.
Tamer, seorang remaja berusia 16 tahun dari Manshiyet al-Rugola mengatakan belum pernah melihat orang asing seumur hidupnya, hingga Ever Given yang merupakan salah satu kapal terbesar di dunia, terjepit di seberang kanal. Kapal ini menghalangi ratusan kapal lain dan mengganggu arus pasokan global.
Samia, seorang warga lainnya juga mengatakan tidak pernah melihat banyak polisi datang ke Manshiyet al-Rugola. Dia menyebut bahwa sejak pemilu berlangsung, tak pernah ada petugas keamanan sipil yang datang berkunjung ke desa itu.
Sementara sebagian besar negara di dunia telah dicengkeram oleh krisis terusan Suez dan dampaknya terhadap perdagangan global, lebih sedikit perhatian diberikan pada efek langsungnya terhadap ekonomi Mesir. Padahal, negara Timur Tengah ini bergantung pada kanal untuk mendapatkan pendapatan hingga miliaran dolar AS.
Samia mengatakan kapal itu mungkin adalah ‘tamu berat’ ungkapan yang dikenal sebagai pengunjung tak diinginkan di Mesir. Meski khawatir dengan dampak potensial pada perekonomian, sejauh ini, ia belum melihat perubahan signifkan.
“Kami terus mendengar berita bahwa ini adalah masalah besar dan harga dolar terpengaruh. Kami berharap pound Mesir tetap sama,” jelas Samia.
Sementara itu, Tamer mengatakan jalur kapal di kanal melambangkan harapannya agar suatu hari bisa pergi merantau, keluar dari Manshiyet al-Rugola. Dia juga menyebut banyak temannya ingin beremigrasi, bahkan sekalipun harus menggunakan cara ilegal seperti menaiki kapal ke Eropa.
“Saya mendengar kapal ini akan menuju Belanda. Saya berharap bisa tinggal di sana dan hanya mengunjungi Manshiyet al-Rugola saat liburan,” kata Tamer.[]sumber:ihram.co.id





