LAKSAMANA Keumala Hayati, adalah nama yang akrab di dunia kelautan dunia. Seluruh Organisasi angkatan laut dunia mengenal nama ini. Dialah perempuan dari Negara Kesultanan Aceh Darussalam, yang berpangkat laksamana penuh.
Hayati memimpin ratusan ribu marinir Aceh Darussalam, yang merupakan salah satu angkatan laut terbesar di dunia di masa itu. Istilah laksamana untuk pemimpin tentara laut sampai kini dipakai di negara-negara –yang di masa itu merupakan wilayah Negara Kesultanan Aceh Darussalam– seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura.
Kawasan ini –yang sekarang menjadi beberapa negara– merupakan wilayah Negara Kesultanan Aceh Darussalam di masa itu.
Berikut saya kutip laman media yang berkantor pusat di Turki, worldbulletin.net, menyiarkan tentang Laksamana Keumala Hayati dari sumber Mahzara Schools di Afrika.
Sejarah dipenuhi dengan perempuan yang telah melakukan pekerjaan hebat dalam beberapa bidang. Dari sains hingga seni rupa hingga olahraga ekstrem, kini setiap disiplin memiliki pahlawan perempuan. Sebenarnya, selalu ada 'wanita pertama' dalam segala hal. Aceh adalah salah satunya.
Keumalahayati, juga dikenal sebagai Malahayati, adalah laksamana wanita pertama di dunia. Kisah dan prestasinya lebih dari sekadar mengesankan; Mereka berani, terhormat, sukses dan mengagumkan. Dia adalah panutan dan inspirasi bagi semua orang.
Malahayati hidup pada masa Kesultanan Aceh pada abad ke 15 dan ke-16. Dia adalah keturunan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Sebenarnya, salah satu pendiri adalah kakek buyutnya Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah. Ayah dan kakeknya sama-sama laksamana yang sangat disegani.
Dia tertarik prestasi dan pengabdian ayahnya dan memutuskan untuk masuk Akademi Militer Ma'had Baitul Maqdis, sebuah universitas yang memusatkan pelatihan marinir. Setelah lulus dari kampus itu, Akademi tersebut menawarkan pendidikan di Angkatan Laut dan Departemen Angkatan Darat.
Setelah lulus dari sana dia menikahi kekasih sejatinya, seorang perwira angkatan laut. Sayangnya dia terbunuh saat Perang di Teluk Haru melawan pasukan Portugis. Malahayati bersumpah untuk membasmi seluruh pasukan Portugis di sekitar perairan Melaka.
Ia bertekad untuk melanjutkan perang yang pernah dipimpin oleh suaminya. Dia meminta Sultan untuk membentuk armada dari janda Aceh. Setelah mendapat persetujuan, armada tersebut dinobatkan sebagai Laskar Inong Bale dan Malahayati ditunjuk sebagai Laksamana Pertama. Dia memimpin berbagai pertempuran melawan Portugis.
Pada tahun 1599, komandan Belanda Cornelis de Houtman dan saudaranya Frederick de Houtman mengunjungi Sultan untuk membangun hubungan dagang mereka. Mereka disambut dengan damai namun Cornelis membawa Portugis sebagai penerjemah, yang merupakan penghinaan terhadap Sultan.
Maka pertempuran tejadi, dan Malahayati memimpinnya. Dia berhasil mengalahkan Belanda, membunuh Cornelis dan memenjarakan saudaranya selama dua tahun. Pada tahun 1600 Paulus van Caerden, yang memimpin Angkatan Laut Belanda merampok sebuah kapal merchant merica dari Aceh dan membenamkannya.
Setahun kemudian Admiral Jacob van Neck dan teman-temannya memperkenalkan diri sebagai pedagang untuk membeli lada. Tapi setelah Malahayati mengetahui bahwa mereka orang Belanda, mereka ditangkap sebagai kompensasi atas perbuatan sebelumnya.
Setelah beberapa bulan Maurits van Oranje memerintahkan dua utusan, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy, untuk mengambil surat diplomatik permintaan maaf dan beberapa hadiah untuk Kekaisaran Aceh. Akibatnya Malahayati dan para utusan membuat perjanjian.
Sementara itu dia ditunjuk sebagai Komandan Pasukan dan Penjaga Istana. Malahayati juga terlibat saat Inggris memasuki Selat Malaka. Ratu Elizabeth telah mengirim surat kepada James Lancaster dengan sepucuk surat untuk Sultan.
Setelah melakukan negosiasi dengan Malahayati sebuah kesepakatan membuka rute bahasa Inggris ke Jawi (Melayu Sumatra-Samudra Pasai).
Saat ini banyak universitas, rumah sakit, jalan dan kota Sumatera dinamai menurut namanya. Bahkan serial “Laksamana Keumalahayati” pun dibuat untuk menghormati karya besarnya.
Tidak ada keraguan bahwa Malahayati adalah nama yang harus diingat. Dia adalah seorang tentara pelaut sejati, yang berkemauan keras dalam mencapai sesuatu yang diinginkannya.
Belum diketahui tanggal pasti lahir dan meninggal Laksamana Keumala Hayati. Tentang bagaimana yang mulia ini meninggal juga belum diketahui, ada yang menyebut dia syahid dalam pertempuran dengan Portugis, sama seperti suaminya, dan ada yang menyebut ia meninggal dunia secara normal dalam usia tua di darat.
Sampai kini para peneliti masih mencari prasasti (batu nisan Aceh) yang menuliskan namanya, dan belum ditemukan. Yang telah ditemukan oleh peneliti Taqiyuddin Muhammad adalah batu nisan bertulis Laksamana Tun Meurah binti Al Burququ, seorang perempuan Laksamana di zaman Negara Kesultanan Aceh Darussalam, ditemukan di Komplek makam Meurah II, Mata Ie Aceh Besar. Belum diketahui data lain yang menisbahkan Tun Meurah adalah Keumala Hayati.
Sementara di batu nisan yang berada di komplek yang disebutkan sebagai makam Laksamana Keumala Hayati di Krueng Raya, Aceh Besar, tidak ada pahatan tulisan yang diperlukan di batu itu.
Negara Kesultanan Aceh Darussalam adalah negara terbesar di masa itu di Asia Tenggara. Memiliki luas wlayah seluas beberapa negara sekarang, yakni Indonesia, Malaysia, Brunei, Patani (Selatan Thailand), dan Sulu (Mindanau Filipina).
Sebelum Aceh Darussalam yang beribukota di Bandar Aceh Darussalam (Banda Aceh), ada Negara Kesultanan Sumatra (Samudra Pasai) dengan luas wilayah yang sama, beribukota di bandar Sumatra (Geureudong, Aceh Utara sekarang).
Kedua negara ini memiliki undang-undang dasar yang sama, memiliki visi misi sama, dan dipimpin oleh orang yang sama (orang-orang Aceh). Setelah Kesultanan Sumatra runtuk karena terlalu lama berperang dingan Portugis, maka turunan Raja Lamuri (salah satu propinsi Kesultanan Sumatra), mendeklarasikan Kesultanan Aceh Darussalam, bertepatan dengan tahun direbutnya Melaka (Wilayah Sumatra atau Samudra Pasai di Semenanjung Melayu) oleh Portugis.
Kedua negara ini memiliki estafet pengalihan sistem yang rapi, yakni, pada abad (seratus tahun) pertama Kesultanan Aceh Darussalam, masih mengadopsi sistem Kesultanan Sumatra (Samudra Pasai).[]

