Tentang Puisi dan Cerita Kami

Kepada Laksamana Keumala Hayati

Kulihat kau di antara larik puisi dan cerita sejarah yang ditulis dengan air mata dan darah

Puisi itu hanya mencatat perangmu di laut,
di sela-sela perang di Perairan Selat Malaka,
tidak tentang kebijaksaanmu pada orang sekeliling
tidak kala kau di pustaka dan dayah-dayah.

Puisi sejarah itu haus darah dan airmata,
tidak haus ilmu, prilaku dan hubungan antara manusia.

Ah, bukan tentang kau saja begitu,
kini pun puisi-puisi dan cerita
ditulis dengan darah dan air mata,
para penyair melihat perang,
bukan pustaka, dayah, dan kebijaksanaan
hampir saja kukatakan,
bahkan penulis pun hampir kehilangan kesejatian tugasnya.
Ke mana penulis kebijaksanaan,
tentang kata dan mata hati.

Malu kita pada Hamzah Fansuri,
yang menulis hati manusia, alam dan Tuhan.

Thayeb Loh Angen, Banda Aceh, 4 Maret 2013