Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaKata Dua Tokoh...

Kata Dua Tokoh Perempuan Aceh Soal Pahlawan Nasional untuk Malahayati

BANDA ACEH – Dua perempuan Aceh menilai penting memasukkan Laksamana Hayati menjadi pahlawan nasional. Untuk untuk itu anggota DPR Aceh dan Ketua Koalisi Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Aceh Hj Ismaniar, dan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Amrina Habibie, mengapresiasi langkah Komisi X DPR-RI yang mendorong agar Laksamana Malahayati ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Ismaniar saat dihubungi Rabu, 7 Juni 2017 mengatakan, Laksmanan Malahayati memang sudah sangat layak menjadi pahlawan nasional karena “perjuangan lautnya” yang dikenal dunia sebagai Laksmana Perempuan pertama di dunia.

“Kita memberi apresiasi kepada Komisi X DPR-RI, semoga penyematan pahlawan nasional kepada Laksmana Malahayati ini tidak mendapat kendala,” kata Ismaniar.

Ismaniar juga menyebutkan, Kemalahayati merupakan simbol perempuan yang tidak lari dari kodratnya sebagai perempuan, sama seperti Cut Nyak Dien yang berperang karena Aceh kehilangan orang pertama dalam pertempuran, yakni suami mereka.

“Ini simbol kuat perjuangan rakyat Aceh, dan saya yakin simbol perempuan begini juga ada di daerah lainnya di Aceh seperti Inen Mayak Teri di Gayo,” katanya.

Sementara Ketua P2TP2A Amrina Habibie menyebutkan, penyematan pahlawan kepada Laksmana Malahayati seharusnya sudah terwujud sejak dulu, karena Malahayati adalah perempuan fenomenal yang luar biasa.

“Perjuangan Malahayati di laut membuktikan perempuan juga bisa menjadi nakhoda,” ujar Amrina Habibie.

Menurut Amrina, harusnya pemerintah Indonesia sudah mengakui kepahlawanan Malahayati sejak lama, sebab pengakuan juga dilakukan dunia.

“Malahayati bukti sejarah perempuan bisa berkiprah di ranah publik maupun domestik secara bersahaja,” demikian kata Amrina Habibie.[]

Baca juga: