Kamis, Juli 25, 2024

Buka Rapimda KNPI Subulussalam,...

SUBULUSSALAM - Penjabat (Pj) Wali Kota Subulussalam, H. Azhari, S. Ag., M.Si mengatakan...

BI Lhokseumawe Gelar ToT...

LHOKSEUMAWE - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe bersama Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota...

PPK Sawang: Uang Operasional...

ACEH UTARA - Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sawang di bawah Komisi Independen Pemilihan...

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...
BerandaNewsKhauri Top Blang;...

Khauri Top Blang; Cara Masyarakat Pidie Jaga Adat Pertanian

SIGLI – Makanan pokok masyarakat Aceh secara umum adalah nasi. Tak heran jika mayoritas lahan di Aceh ditanami padi. Kebutuhan pokok terhadap beras dan nasi menjadikan Aceh atau Indonesia secara keseluruhan mempunyai lahan pertanian hampir di setiap daerah, termasuk di Pidie.

Nah, ternyata dalam dunia pertanian di Aceh muncul adat-adat tertentu dalam bertani. Adat tersebut rata-rata ada di setiap daerah dan memiliki ciri yang berbeda. Adat yang mulai pudar di daerah perkotaan tersebut ternyata masih dipegang erat di beberapa tempat.

Masyarakat Pidie memiliki beberapa prosesi adat dalam bertani. Mulai dari pencucian bibit atau lazim disebut 'rah bijeh' kemudian tahap penanaman atau 'seumula' dan yang terakhir 'khauri top blang' atau tahap penutupan.

Setiap tahap tersebut selalu diawali dengan acara makan bersama atau khauri. Dalam dua tahap pertama yaitu rah bijeh dan seumula, khauri tidak dilakukan secara besar-besaran. Namun saat penutupan terdapat acara makan bersama yang ditutup dengan wejangan salah satu tokoh di kampung setempat.

Adalah Gampong Leupeum Mesjid, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie yang masih melaksanakan adat pertanian di atas. Setiap regulasi adat dalam bidang pertanian tersebut diikuti oleh masayarakat atas kesadaran masing-masing.

Nyoe adat, kon wajeb. Meninggai aneuk meupat jrat, gadoh adat hana pat ta mita,” kata Muntazar, Tengku Imum Kemukiman Leupeum ketika acara Top Balang di desa setempat, Kamis, 21 Januari, 2016.

Di akhir prosesi Top Blang tersebut Teungku Imum memberikan wejangannya terkait hidup bermasyarakat dan dalam kehidupan bertani, berkebun, dan bersosialisasi sesama masyarakat.

Tiep-tiep na masalah, baik itu dalam hal apa saja ta selesaikan dengan cara musyawarah,” ujarnya di depan masyarakat gampong setempat yang jamak hadir dalam acara tersebut.

Menurut Teungku Imum, hidup bermasyarakat tidak boleh egois. Setiap perkara dapat diselesaikan secara damai jika dibicarakan dengan baik. Tak hanya nasihat hidup, ia juga memaparkan sedikit penjelasan terkait zakat yang dihasilkan dari hasil pertanian. Tengku Mun, sapaan akrab Muntazar, mengatakan zakat harus dibayar segera jika sudah sampai nisab.

“Semoga hasil panen kali nyoe troh jakeut dan nyan neu baye aju,” katanya.

Salah satu mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di daerah ini, mengaku takjub dengan prosesi adat yang dilakukan secara kompak tersebut. Mahasiswa Unsyiah yang berasal dari Lhoknga, Aceh Besar itu mengatakan prosesi adat di Desa Leupeum Mesjid dan di tempatnya sedikit berbeda.

Bak long na cit khauri blang, tapi hana rame lage nyoe,” katanya.

Dalam acara tersebut suasana akrab antara sesama warga sangat terlihat. Di akhir prosesi acara tersebut ditutup dengan makan bersama.[](bna)

Baca juga: