ACEH UTARA — Suasana khusyuk menyelimuti pelaksanaan salat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Aceh Utara, Sabtu, 21 Maret 2026. Ribuan jemaah memadati masjid menunaikan ibadah hari raya yang penuh makna tersebut.

Bertindak sebagai imam salat Idulfitri adalah Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Tgk. Jamaluddin Ismail akrab disapa Walidi. Sementara khutbah Idulfitri disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Aceh (UIA) Peusangan, Bireuen, Dr. Tgk. Nazaruddin Abdullah.

Dalam khutbahnya, Tgk. Nazaruddin menekankan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan simbol kemenangan setelah umat Islam menjalani ibadah puasa selama bulan suci Ramadan.

Ia mengingatkan, sangat merugi bagi mereka yang tidak memanfaatkan Ramadan untuk meningkatkan kualitas ibadah.

“Bulan suci Ramadan adalah kesempatan besar untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Jika kesempatan ini disia-siakan, maka Ramadan menjadi tidak bermakna,” ujarnya.

Tgk. Nazaruddin juga menegaskan bahwa esensi puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menjaga diri dari perbuatan yang merusak nilai ibadah, seperti ghibah dan aktivitas yang tidak bermanfaat. Menurutnya, keberhasilan Idulfitri sangat ditentukan oleh kualitas ibadah selama Ramadan.

Tgk. Nazaruddin mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, bahwa “Setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat, bahkan lebih sesuai kehendak Allah SWT”.

Ia menambahkan, amalan puasa memiliki keistimewaan tersendiri karena pahalanya langsung diberikan oleh Allah tanpa batas.

Menurut Tgk. Nazaruddin, Idulfitri merupakan momentum kembali kepada fitrah, yakni kesucian diri, sekaligus refleksi untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Ramadan juga disebut sebagai bulan istimewa yang penuh kemuliaan, termasuk adanya malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

“Ramadan ini bulan istimewa yang diberikan khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW, menawarkan kemuliaan yang tidak diberikan kepada umat nabi-nabi terdahulu. Allah mengampuni seluruh dosa umat Muhammad di akhir malam Ramadan, bagi yang sungguh-sungguh dan ikhlas dalam melaksanakan ibadah Ramadan,” ungkap Tgk. Nazaruddin.

Tgk. Nazaruddin juga menyampaikan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Bahwa sebanyak apa pun ibadah seseorang, tidak akan berarti jika hubungan dengan orang tua tidak baik.

Sebagai pengingat, Tgk. Nazaruddin
menceritakan kisah sahabat Nabi, Alqamah, yang dikenal rajin beribadah namun mengalami kesulitan mengucap kalimat tauhid ‘Laa ilaaha illallah’ saat sakaratul maut akibat durhaka kepada ibunya. Permasalahannya, ia terlalu mengutamakan istrinya dan mengabaikan ibunya yang sudah tua. Ibunya merasa sakit hati dan tidak rida kepadanya, meskipun Alqamah dikenal saleh di mata manusia.

Mendengar laporan tersebut, Rasulullah SAW mengutus sahabat untuk menemui ibu Alqamah. Ketika sang ibu awalnya tidak mau memaafkan, Rasulullah memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Alqamah. Karena merasa kasihan dan tidak tega melihat anaknya akan dibakar, sang ibu akhirnya rida dan memaafkan kesalahan Alqamah.

“Setelah ibunya rida, lisan Alqamah akhirnya bisa mengucapkan Laa ilaaha illallah. Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa rida Allah terletak pada rida kedua orang tua. Ibadah yang banyak tidak akan menjamin husnul khatimah jika disertai kedurhakaan kepada orang tua. Tentunya kita semua berdosa kepada orang tua baik kecil maupun besar, maka perlu sangat meminta maaf kepada mereka,” ujar Tgk. Nazaruddin.

Untuk itu, Tgk. Nazaruddin mengajak seluruh jemaah menjadikan Idulfitri sebagai momentum untuk meminta maaf kepada orang tua atas segala kesalahan, agar kehidupan dan ibadah menjadi lebih bermakna, baik di dunia maupun di akhirat.[]