Matahari siang itu menyengat Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Di bawah teriknya, tangan Nurhayati sibuk mengumpulkan piring, gelas, dan peralatan rumah tangga yang berserakan. Sesekali janda dua anak itu berhenti, menyeka peluh, lalu menjemur kasur busa serta pakaiannya yang basah kuyup akibat diguyur hujan deras sehari sebelumnya. Wajahnya menyiratkan kelelahan teramat sangat. Di atas tanah yang lembap, ia mencoba menyelamatkan apa saja yang tersisa.
Hunian Sementara (Huntara) bantuan BNPB yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tempat berteduh bagi keluarganya, kini tak lagi layak dihuni. Bangunan itu terangkat dan bergeser dari fondasinya setelah diterjang angin kencang pada Selasa, 2 Juni 2026, sore.
Di tengah puing-puing, Nurhayati mengenang kembali detik-detik mencekam saat bencana itu datang.
“Saat hujan deras disertai petir dan angin sangat kencang kemarin sekitar pukul 18. 30, saya sedang memandikan anak yang berusia empat tahun di dalam huntara. Tiba-tiba rumah terjungkal diterpa angin. Saya, ibu saya, dan kedua anak langsung berlari keluar menyelamatkan diri bersama tetangga lainnya,” tutur Nurhayati dengan suara bergetar, Rabu, 3 Juni 2026.
Dalam kepanikan, ia tak sempat menyelamatkan apa pun. Tempat tidur, pakaian, hingga peralatan dapur semuanya basah kuyup.
Bagi Nurhayati, ini adalah kali kedua ia kehilangan tempat bernaung. Enam bulan lalu, akhir November 2025, banjir bandang dahsyat menyapu bersih rumah aslinya. Ketika asa mulai dibangun kembali di dalam bilik huntara, angin kencang justru datang merenggutnya lagi.
“Trauma banjir bandang belum hilang, sekarang kami kehilangan tempat tinggal untuk kedua kalinya. Kami menerima ini sebagai takdir dari Allah SWT, tetapi kami juga berharap ada perhatian yang lebih serius terhadap nasib korban banjir dari pemerintah,” ucap Nurhayati sambil mengusap air mata yang luruh di pipinya.
Di balik air mata itu, ada kekecewaan mendalam yang dipendamnya—dan juga oleh banyak warga lainnya. Sudah setengah tahun berlalu sejak banjir bandang, namun Jaminan Hidup (Jadup) yang dijanjikan pemerintah tak kunjung cair.
Pada masa awal bencana, bantuan sembako dari para relawan sempat mengalir lancar. Namun kini, bantuan tersebut telah surut, sementara kebutuhan perut anak-anaknya tidak bisa menunggu.
Sebagai kepala keluarga sekaligus ibu, Nurhayati harus memutar otak demi membesarkan kedua buah hatinya, salah satunya masih duduk di bangku SMP. Untuk bertahan hidup, ia bekerja serabutan sebagai pemungut brondolan sawit.
“Upahnya dua puluh ribu rupiah per karung. Penghasilan yang didapat tergantung berapa karung yang bisa dikumpulkan. Terkadang cukup, sering kali tidak,” ungkapnya lirih.
Meski hidup diimpit kesulitan, Nurhayati menegaskan dirinya tidak ingin terus-menerus menengadahkan tangan.
“Kami hanya berharap pemerintah segera merealisasikan bantuan yang telah dijanjikan kepada korban banjir, agar masyarakat di sini memiliki kesempatan untuk bangkit kembali. Artinya, kami tidak ingin terus bergantung pada bantuan, kami hanya berharap hak yang sudah dijanjikan bisa segera diberikan karena memang sangat dibutuhkan. Apalagi sekarang ekonomi kami semakin sulit setelah bencana ini datang lagi,” keluhnya.
Roda Ekonomi Lumpuh, 36 Huntara Rusak
Nasib pilu Nurhayati adalah potret nyata dari nestapa kolektif warga Gampong Rumoh Rayeuk. Keuchik Gampong Rumoh Rayeuk, A’kthaillah, mengungkapkan bahwa amukan angin kencang pada Selasa kemarin (2/6) telah merusak sedikitnya 36 unit huntara bantuan BNPB di desanya.
“Dari total yang rusak, 11 unit mengalami rusak berat, 20 unit rusak sedang, dan 5 unit rusak ringan. Padahal, huntara inilah satu-satunya tempat bersandar bagi masyarakat setelah rumah mereka rata dengan tanah akibat banjir bandang akhir tahun lalu,” kata A’kthaillah.
Bencana ganda ini membuat kehidupan warga kian terpuruk. Sebagian besar ladang-ladang sawit, kebun pinang, dan tanaman pisang yang menjadi urat nadi perekonomian warga sudah mati total diterjang banjir bandang akhir tahun 2025. Kini, tempat berteduh mereka pun hancur dihantam angin.
“Kondisi masyarakat sekarang sangat memprihatinkan. Rumah sudah hancur karena banjir, sekarang huntara juga rusak karena angin kencang. Sementara mata pencaharian masyarakat hampir tidak ada lagi,” kata Keuchik dengan nada getir.
Lumpuhnya roda ekonomi membuat warga menggantungkan harapan besar pada janji bantuan Jaminan Hidup (Jadup) dari pemerintah pusat.
“Kami memohon kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial agar memprioritaskan pencairan Jadup bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya di Kecamatan Langkahan. Masyarakat sangat membutuhkan bantuan itu untuk sekadar bertahan hidup,” desaknya.
A’kthaillah memaparkan bahwa seluruh prosedur administrasi dan pendataan dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten telah rampung diserahkan ke pusat. Namun, realisasinya masih nihil.
“Masyarakat setiap hari bertanya kepada saya, kapan Jadup cair dan sudah sampai mana prosesnya. Namun, sampai sekarang kami belum bisa memberikan jawaban yang pasti karena belum ada perkembangan yang disampaikan kepada kami,” ungkap A’kthaillah.
Menanti Solusi Nyata di Tengah Ketidakpastian
Selain mendesak pencairan Jadup, pihak gampong juga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki huntara yang rusak, atau sekalian mempercepat pembangunan Hunian Tetap (Huntap).
“Kami berharap pemerintah pusat benar-benar serius menangani persoalan ini. Jangan biarkan masyarakat terlalu lama hidup dalam ketidakpastian. Kami ingin ada solusi yang jelas untuk tempat tinggal dan kehidupan masyarakat ke depan,” pintanya.
Bila ketidakpastian ini terus berlarut-larut, A’kthaillah mengkhawatirkan tekanan ekonomi yang mendera warganya akan memicu persoalan sosial baru yang tidak diinginkan. Apalagi, desas-desus di kalangan warga yang berencana menggelar unjuk rasa demi menyuarakan keterlambatan Jadup ini sudah mulai terdengar di lapangan.
Kini, warga Rumoh Rayeuk seperti Nurhayati hanya bisa menatap langit Langkahan dengan cemas. Di bawah bayang-bayang trauma banjir dan puing-puing huntara yang berserakan, mereka menanti janji pemerintah yang tak kunjung mendarat di pelukan.[]








