Tepung pisang wak (pisang monyet) masih asing bagi sebagian besar orang. Namun, dalam Festival Pangan Lokal B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) antar gampong di Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, itu terlihat.
Acara yang dilaksanakan di Aula kantor camat setempat pada 18 Juni 2019 tersebut menemukan beberapa produk unggulan jadi dan setengah jadi, seperti bubuk kunyit, asam sunti, dendeng, bubuk kopi, bada reuteuek, tepung pisang, dan lainnya.
Tepung pisang, merupakan komoditi yang jarang terdengar, ternyata datang dari Kuta Lamreung, Gampong Lamreung.
Penyusun konsep tepung pisang tersebut, Zahraini, mengatakan, dirinya mencoba membuat tepung tersebut pada waktu kuliah tataboga di FKIP Unsyiah.
“Sudah lama itu. Ini kesempatan memunculkannya. Saya memberitahukan cara membuat tepung itu kepada anggota tim juru masak yang ikut lomba. Setelah mereka dapat melakukannya, saya ke Medan urusan kuliah sehingga tidak dapat hadir saat lomba tersebut,” kata Zahraini di Banda Aceh, Sabtu, 22 Juni 2019.

Selain tepung pisang, Lamreung juga mengikutsertakan bada reuteuek dan bubuk kopi serta janeng guri (uduk) dalam festival tersebut.
“Janeng uduk resep yang saya buat juga. Untuk tepung, selain pisang wak, pisang abee juga dapat dijadikan tepung pisang. Dalam festival ini, Kuta Lamreung dapat juara kedua,” kata Zahraini.
Zahraini tidak mengatakan, apakah tepung pisang akan diproduksi dalam jumlah banyak ke depan atau hanya untuk mengikuti lomba tersebut.[]



