Mengumpulkan kepercayaan publik

“Sebenarnya, dia sama sekali tidak memimpin gerakan [separatis]. Satu-satunya fokusnya adalah mendidik masyarakat. Dia prihatin ketika melihat orang-orang tidak secara serius memahami esensi Islam.”

Den Tomina, putra ketiganya yang berusia 86 tahun, seorang politisi Muslim senior utama dari Thailand Selatan, menceritakan karya ayahnya dari ingatan dan kisah-kisah yang diceritakan oleh orang-orang yang dekat dengannya.

Pada tahun 1927, Haji Sulong kembali ke Thailand setelah ziarah ke Mekkah. Dia mendapati umat Muslim di Pattani berada di bawah pengaruh spiritualisme dan menyimpang dari ajaran Islam sehingga dia memulai berdakwah.

Dia mengundang masyarakat lokal untuk memahami dan menerima Islam melalui dialog dan teknik-teknik lainnya di Pattani dan provinsi-propinsi terdekat lainnya, yaitu Yala dan Narathiwat.

Den berkata bahwa satu-satunya impian ayahnya saat itu adalah “membantu Muslim lokal untuk memahami Islam dan berhenti mempraktikkan spiritualisme.”

Pada tahun 1929, Haji Sulong mempertimbangkan sebuah gagasan untuk mendirikan sekolah agama Islam pertama di Thailand.

Dia memutuskan untuk tidak membangun sebuah madrasah karena dia lebih memilih sekolah yang tidak hanya fokus pada pendidikan Islam, tetapi juga yang menawarkan pendidikan normal yang mencakup sosial ekonomi.

Membangun sekolah itu diperkirakan menelan biaya sekitar 7.000 Baht. Sebanyak 3.000 Baht di antaranya akan berasal dari Phraya Phahon Pholphayuhasena, pemimpin revolusi tahun 1932 yang menggulingkan Raja Rama VII dan merupakan perdana menteri kedua Thailand di bawah pemerintahan sipil setelah kudeta.

Tidak lama setelah revolusi berakhir, dia pergi menggunakan kereta api ke Bangkok untuk menerima sumbangan itu. Perdana Menteri itu berbaik hati dan mengikuti acara pembukaan sekolah saat kunjungannya ke Pattani.

“Sekolah Madarasah Al Maarif Al Wataniah Fatani” menerapkan sistem yang relatif modern dan segera menjadi tempat berkumpul yang memainkan peran penting dalam membangun rasa hormat dan keyakinan seputar Haji Sulong di antara Muslim Melayu setempat.

Ketidakpercayaan yang mengakar dan bagaimana kebijakan nasionalis mencekik Muslim Melayu

“Saat itu, seseorang yang sangat dihormati di antara umat Muslim setempat akan dilihat oleh pihak berwenang sebagai ancaman.”

Penjelasan ringkas Den Tomina menggambarkan kondisi politik yang genting pada saat ayahnya menjadi suara terdepan pada komunitas Muslim.

Ketika Panglima Tertinggi Plaek Pibulsongkhram menjadi Perdana Menteri (masa jabatan pertama 1938-1944), pemerintahnya memperjuangkan kebijakan Pembangunan Bangsa yang kontroversial dengan menyebarluaskan belasan pengumuman.

Konsep keras bangsa Thailand secara paksa mewajibkan warga negara terlepas dari ras atau keyakinan untuk memeluk identitas Thai dan secara terbuka mengikuti keseragaman sosial dan budaya Thailand.

Menurut artikel, Keheningan monumen peluru: Kekerasan dan Manajemen Kebenara’ karya Chaiwat Satha-Anand, negara Thailand mengandalkan Undang-Undang Kebudayaan Nasional untuk melarang pakaian tradisional Muslim Melayu, nama Arab dan bahasa Melayu serta ibadah Islam.

Di beberapa daerah, sebuah perintah resmi dikutip untuk memaksa umat Islam menghormati patung Buddha. Hukum waris Islam digantikan oleh Hukum Perdata dan Komersial Thailand di pengadilan Thailand di empat provinsi yang mayoritas penduduknya Muslim.

Penindasan terhadap identitas Islam menciptakan kebencian yang meluas, menarik serentetan petisi dari Muslim lokal yang menentang perlakuan tidak adil oleh pemerintah.

Meredakan ketegangan, Haji Sulong, selaku ketua Komite Islam Sentral Thailand Pattani mengajukan proposal berisi tujuh poin kepada pemerintahan Thawal Thamrongnawasawat pada 3 April 1947.

“Perdana Menteri Luang Thamrongnawasawat menanggapi dengan membentuk sebuah komite untuk memantau situasi di empat provinsi di bagian Selatan yang mayoritas penduduknya Muslim. Masalah merajalela, sebut saja – korupsi yang meluas, orang-orang lokal yang dieksploitasi tidak mendapat bantuan, orang-orang sangat menderita.

“Ketika dia mengetahui sekelompok pejabat dari Bangkok sedang berkunjung, dia mengadakan pertemuan, dia menarik sebanyak 200 peserta dan mengatakan kepada mereka, ‘Perwakilan pemerintah datang ke sini. Apa yang kita harapkan dari mereka?’