Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
BerandaKisah Jendral Tanongsuk,...

Kisah Jendral Tanongsuk, Tgk Amri Bin Abdul Wahab dan Dendang Bungong Seulanga

50 perwira dari pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan 50 perwira dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) digembleng dalam sebuah pelatihan tentang perdamaian. Untuk menghindari masalah diantara mereka juga disertakan 50 perwira internasional dari berbagai negara yang tergabung dalam Joint Security Committee (JSC).

JSC ini diketuai oleh jendral asal Thaiand, Mayor Jendral Tanongsuk Tuvinun. Para perwira tersebut dilepaskan secara simbolik oleh Tanongsuk Tuvinun. Acara pelepasan semula dirancanakan digelar di areal parkir sebelah kiri bagian timur Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Namun, kana dinilai sempit dan bisa mengganggu pengguna jalan, akhirnya dipindahkan bagian dalam halaman mesjid. Timbul kekhawatiran lain saat itu yakni kehadiran anggota Henry Dunant Centre(HDC) dan JSC yang non muslim ke mesjid. Apakah mereka diizinkan atau tidak.

Untuk menjawab kekhawatiran itu, staff Public Information Unit (PIU) HDC mengambil inisatif untuk menjumpai pengurus Mesjid Raya Baiturrahman. Mereka diterima oleh Ketua Penertiban Acara Mesjid Raya Baiturrahman Tgk. Ridwan Djohan. Mneurutnya, orang non muslim boleh-boleh saja masuk ke halaman mesjid asal mengenakan pakaian yang menutup aurat. Selain itu ia menegaskan bahwa mereka yang non muslim hanya boleh masuk sebatas halaman saja, tidak boleh masuk ke dalam mesjid.

Setelah mendapat persetujuan itu, maka diputuskan bahwa acara pelepasan anggota JSC ke daerah-daerah digelar di halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Sebelum acara dimulai lebih dahulu PIU menggelar konferensi pers di Hotel Kuala Tripa. Para wartawan yang ikut konferensi pers tersebut kemudian diajak ke Mesjid Raya untuk memotret acara pelepasan.

Acara yang digelar setelah shalat asar itu dihadiri oleh semua anggota JSC, HDC dan PIU. Personil JSC umumnya menggunakan seragam militer lengkap, kecuali dari pihak GAM yang hanya dikenakan oleh Tgk Amri bin Abdul Wahab, selebihnya hanya mengenakan rompi JSC.

Masyarakat yang sedang istirahat dan menikmati sore di mesjid ikut menyasikan acara tersebut. Semua anggota JSC berfoto ria dengan Amri yang sebelumnya hanya dilihat di media. Amri ini juga merupakan salah seorang “perwira“ sulapan GAM. Ia mulai dikenal ketika ditempatkan sebagai personil JSC oleh GAM. Sebelum itu namanya tidak pernah muncul dalam gerakan GAM.

Pada acara pelepasan itu, Amri dikerubungi banyak orang yang ingin berfoto bersamanya. Pria yang sebelumnya tak dikenal, kini oleh GAM dijadikan “selebritis” dadakan. Saat sesi foto bareng tersebut sesekali terdengar teriakan “merdeka” dalam kerumunan orang yang mengelilingi Amri. Namun karena dipandang tidak etis, Amri menegurnya dengan kedipan mata, tanpa tidak boleh. Akhirnya mereka memilih kata lain dan berteriak “Hidup Tgk Amri…hidup Tgk Amri… hidup Tgk Amri…” mereka mengelu-elukannya.

Amri tampak kwalahan menghadapi kerumunan orang tersebut, namun ia terlihat tidak berdaya untuk keluar dari kerumunan itu. Ia terus saja tersenyum. Tiba-tiba beberapa anak muda dalam kerumunan itu mengangkat tubuh Amri dan membawanya ke menara Mesjid Raya. Diperlakukan seperti itu Amri hanya tertawa.

Di menara itu, dengan berpijak pada anak tangga Amri berdiri. Ia kemudian mengacungkan tinjunya ke atas sambil menyampaikan beberapa kata. Ia terlihat seperti berpidato di tengah kerumunan itu. Masyarakat jadi histeris, namun tidak dengan wartawan yang terlihat seperti gagal mengambil foto momen tersebut karena terhalang keumunan.

Di sudut yang lain, Brigjen Safzen Noerdin, putra Aceh yang saat itu menjabat Ketua JSC utusan pemerintah Indonesia, mengajak anggota JSC dari utusan pemerintah Indonesia untuk foto bersama dengan bahasa humornya. Ia tak mau kalah dengan apa yang dilakukan Amri dan anggota JSC utusan GAM. “Hayoo…RI…RI kemari,” ajak Safzen sambil tertawa.

Begitu juga dengan anggota JSC utusan internasional. Ketua JSC Mayjen Tanongsuk Tuvinun berbaur dengan masyarakat sambil menyanyikan lagu Aceh “Bungong Seulanga”. Namun jenderal asal Thailand itu hanya hafal dua bait saja dari lagu kebangaan masyarakat Aceh tersebut. Dan dua bait itu pula yang terus diulang-ulangnya. Masyarakat yang melihat kejanggalan lagu itu hanya tertawa sambil berujar “Good…good..good…

Esoknya, pagi-pagi sekali semua tim JSC yang dikelompokkan perwilayah/kabupaten berangkat dengan menggunakan mobil JSC yang telah dipersiapkan sebelumnya. Satu tim terdiri dari enam orang, dua dari RI, dua dari GAM, dan dua dari HDC, karena itu tim ini dinamai tim monitoring tiga pihak (Tim Monitoring Tri-partite).

Begitulah secuil kisah dari ribuan fragmen di balik cerita merintis perdamaian di Aceh dan menghentikan perang yang berlangsung lebih dari tiga dekade. Kisah-kisah itu kini tentu telah menjadi memori bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya.[]Sumber:steemit

Penulis: Iskandar Norman

Baca juga: