Lantunan merdu ayat suci Alquran menggema menjelang Zuhur di Masjid Baiturrahmah Bayi, Gampong Bayi, Kemukiman Seuleumak Barat, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu, 25 Maret 2023. Masjid bercat putih dan hijau muda dengan kubah hitam itu berada di Simpang Bayi, berjarak sekitar 8 kilometer dari Pasar Keude Blang Jruen, Ibu Kota Kecamatan Tanah Luas.

Masjid berukuran 25×30 meter tersebut dibangun di atas tanah wakaf seluas 1 hektare. Masjid ini dibangun berkonstruksi permanen sejak tahun 1970. Kini masjid itu dilengkapi dinding kaca, dan halamannya dipasang paving block. Pintu gerbang dengan ukiran megah dan berkubah kecil. Di sisi utara masjid tampak taman bunga yang sering dimanfaatkan calon pengantin baru untuk lokasi prewedding foto.

Pada masa pemberontakan DI/TII di Aceh 1953, Masjid Baiturrahmah itu masih berkonstruksi kayu berlantai semen, beratap daun rumbia, dibangun hasil swadaya masyarakat setempat. Untuk berwudu, jemaah harus turun ke tempat kolam melalui tangga di halaman masjid. Saat malam tiba, di dalam masjid dinyalakan teplok (lampu minyak tanah) sebagai penerang. Saat tiba waktu salat, bilal memukul beduk untuk memberitahukan kepada masyarakat.

Pada 1960, Masjid Baiturrahmah mulai direhab. Atap masjid dari daun rumbia diganti dengan seng. Tempat wudu dari kolam diubah menjadi wadah yang dibangun menggunakan batu bata. Tahun 1970, masjid tersebut dibangun permanen. Tempat wudu dipasang keran air. Tahun 1985, masjid kebanggaan warga Bayi dan sekitarnya itu mulai menggunakan listrik untuk penerangan dan dilengkapi alat pengeras suara. Seiring berjalan waktu, masjid tersebut terus dibangun sejumlah fasilitas melalui swadaya masyarakat, bantuan pemerintah, dan pihak swasta.

Jemaah tetap Masjid Baiturrahmah kini berasal dari lima gampong yaitu Alue Gampong, Bayi, Hagu, Cot Barat, dan Alue Ie Sijuek, Kecamatan Tanah Luas, dengan kapasitas sekitar 800 orang.

Jauh sebelum dibangun Masjid Baiturrahmah Bayi, di lahan itu pernah berdiri pos serdadu Belanda. Lokasi tersebut menjadi tempat persinggahan sementara bagi pasukan Belanda, sebelum mencari keberadaan Tjoet Nyak Meutia (Cut Meutia), ke hutan belantara pedalaman Aceh Utara. Setelah Indonesia merdeka, Cut Meutia ditetapkan menjadi pahlawan nasional asal Aceh.

“Masjid ini didirikan tahun 1953, sebelum saya lahir. Saat itu bangunan masjid masih terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, yang dibangun secara swadaya masyarakat Bayi dan beberapa gampong lainnya,” ucap Ir. Tgk. H. Subki El Madni, M.T., ditemui sejumlah wartawan di halaman masjid itu, Sabtu (25/3).

Pria 65 tahun akrab disapa Abi Subki itu lalu mengajak wartawan berwudu dan masuk ke dalam masjid. Setelah berwudu, Abi Subki yang mengenakan baju putih, peci putih, dan sarung hitam kotak-kotak, lalu salat sunat dua rakaat di dalam masjid.

[Foto: portalsatu.com/Fazil]

Abi Subki dikenal oleh masyarakat Gampong Bayi sebagai tokoh agama. Ia selalu dilibatkan pengurus Masjid Baiturrahmah jika ada musyarawah untuk kegiataan keagaamaan maupun pembangunan masjid.

Usai salat sunah, Abi Subki menceritakan tentang pembangunan masjid tersebut di atas tanah sawah wakaf dari masyarakat setempat. Kisah ini disampaikan Abi Subki lantaran Imam Masjid Baiturrahmah Bayi, Drs. Tgk. H. Tarmizi Yusuf, telah berangkat umrah ke tanah suci beberapa waktu lalu.

“Menurut kisah dari leluhur kita, sebelum ada bangunan masjid, lahan ini pernah menjadi tempat berkumpulnya tentara Belanda untuk mengejar Teuku Chik Paya Bakong dan Cut Meutia. Pada masa itu, di sini (lokasi masjid sekarang) seperti dijadikan sebagai pos (kamp) untuk memudahkan mereka mencapai tempat-tempat tertentu,” kata Abi Subki yang juga Anggota DPRK Aceh Utara periode 2009-2014.

Menurut Abi Subki, awalnya masjid itu dinamakan Jannatin Bayi. Pada 1970-an berubah menjadi Baiturrahmah. Imam pertama masjid tersebut Tgk. Saiman Cot Dah. “Setelah beliau meninggal dunia, kemudian antara tahun 1977-1978 berganti pimpinan oleh Tgk. Muhammad Cot Trueng. Setelah sekian lama, akhirnya menjadi Imam Masjid Baiturrahmah yaitu Tgk. Tarmizi Yusuf sampai saat ini,” ujarnya.

Pada masa konflik Aceh memanas, terutama tahun 2000, masjid ini menjadi tempat berlindung bagi masyarakat. “Ketika itu banyak masyarakat yang berkumpul ke sini untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar konflik Aceh cepat berlalu. Maka masjid ini menjadi tempat berlindung bagi warga Gampong Bayi dan sekitarnya yang tidak tahu mau lari kemana,” ungkap Abi Subki.

Tidak hanya itu, kata Abi Subki, sebagian kombatan GAM pada masa konflik itu ketika mendapatkan senjata baru dilakukan peusijuek (tepung tawar) terlebih dahulu di Masjid Baiturrahmah Bayi, setelah itu baru bertempur. Konflik Aceh kemudian berakhir setelah Pemerintah RI dan GAM menandatangani MoU Helsinki tahun 2005.

Menurut Abi Subki, setelah Aceh damai sampai saat ini pengurus Masjid Baiturrahmah aktif melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian, samadiyah, zikir, peringatan hari-hari besar Islam, manasik haji atau melatih tata cara pelaksanaan ibadah haji. “Juga ada Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) Baiturrahmah,” ucapnya.

Lantunan ayat suci Alquran menjelang Zuhur itu ternyata dari suara merdu Tgk. Lukman, pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Baiturrahmah Bayi. Ia termasuk dalam daftar imam dan bilal tarawih di Masjid Baiturrahmah tahun 1444 H/Ramadan 2023 M.

Usai membaca Alquran menggunakan pengeras suara, Tgk. Lukman mengumandangkan azan pertanda waktu Zuhur tiba. Ramai warga kemudian salat Zuhur berjemaah, dilanjutkan zikir bersama.[]