BANDA ACEH – Dua kitab fikih karya ulama besar lintas zaman, Syeikh (Syekh) Abdurrauf dan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, akan dipamerkan oleh Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid pada PKA ke-7 di stan Rumoh Manuskrip Aceh Lantai II Gedung Galeri Kompleks Museum Aceh, 7-15 Agustus 2018.
“Karya Syeikh Abdurrauf adalah kitab Mir’at ath-Thullab fi Tashil Ma’rifat Ahkami asy-Syar’iyyati lil-Maliki al-Wahhab, tahun karangan 1663 Masehi, pada kertas Eropa. Sedangkan karya Syeikh Nuruddin Ar-Raniri berjudul Sirat Al-Mustaqim,” kata Tarmizi, Minggu 5 Agustus 2018.
Tarmizi menyebutkan, ia sudah menyimpan sekitar 600 judul manuskrip, termasuk manuskrip-manuskrip yang menceritakan tentang karakter-karakter manusia, kitab-kitab terkait bencana, dan doa-doa.
“Manuskrip-manuskrip tersebut kita dapatkan kebanyakan berasal dari Aceh. Sedangkan dari luar Aceh, ada juga dari Pekanbaru dan Padang. Warisan budaya ini sangat bernilai tinggi dan tidak tergantikan sampai hari ini. Saya akan sangat menghargai setiap manuskrip yang saya dapatkan meski hanya selembar saja,” kata Tarmizi akrab disapa Cek Midi.
Tarmizi mengatakan, jenis kertas yang dipakai untuk menulis kitab-kitab pada masa lalu bukanlah kertas biasa. Namun kertas itu ada watermarknya, ada cap air di dalamnya yang menandakan tahun berapa naskah itu ditulis.
“Kalaupun dipalsukan, sekarang kita bisa melihat perbedaan pada kertas tersebut pada abad ke-17 dengan yang sekarang ini,” kata Tarmizi.
Terkait penyebab kerusakan manuskrip selain kena air biasanya karena terjadinya kelebihan asam hingga kertas tersebut melepuh.
Dalam upaya menyelamatkan manuskrip, Tarmizi mengatakan bersedia menerima manuskrip dari masyarakat bila masih ada yang menyimpannya. Ia berjanji akan berusaha merawat semampu mungkin karena itu sangat berguna bagi masa depan kemaslahatan ilmu pengetahuan.
“Baik lembaran atau kitab aslinya saya akan siap membayar pada masyarakat yang menyimpan, juga akan membayar royalti, membayar kompensasi dari pemeliharaan mereka itu. Dengan itu kita bisa buatkan buku dan didigitalkan manuskrip itu,” kata Tarimizi berharap masyarakat Aceh bersedia mendukung usahanya dalam menyelamatkan manuskrip.[]



