Karya: Taufik Sentana
Mari kita bicara post modernisme, industrialisasi dan pop culture yang membiak lewat corong media massa dan pencapaian digital.
Saat sang diri berkejaran dengan bayang sendiri dan teknologi yang berlari. Kau temui setiap orang, setiap benda, setiap hal menjadi komoditas. Orang orangpun selalu sibuk mencari wajah mereka, di kantor, di toko toko, di cafe, di mall mall ataupun perempatan jalan.
Aku melihat setiap tempat menjadi market dan lembaga-lembaga sekolah semacam berlomba menjadi pabrik atau sekadar menjadi rumah reklame untuk industri tenaga kerja yang fresh dan smart.
Tampaklah hidup menjadi potongan transaksi materiil: di kantor, di pentas politik, di pelayanan publik dan bahkan di atas kasur, yang membekas hanyalah transaksi ekonomi belaka.
Demikianlah saat industri menjadi panglima di peradaban kapitalistik: engkau bisa menjual apapun, dirimu,anakmu, istrimu atau negaramu.
Ya, ada yang tidak menjual anaknya dengan negosiasi ekonomi, tapi sang anak menjadi komoditas dan objek tak langsung dari gaya hidup dan tren budaya pop.
Sementara orang tua tak lagi memiliki ruang otoritatif untuk anaknya dalam bersaing dengan pilihan yang ditawarkan dari sajian televisi.
(Hingga terjuallah akar kepribadian dan nalar objektif dari anak tersebut)
Kita memang berada di persimpangan budaya
di tengah laju kencang dunia
yang gamang dan menua.
Kita sibuk mematut dan beradaptasi dengan budaya import: dari pakaian, makanan,
gaya rambut, pengharum ketiak hingga kekuasaan.
Tapi sangat abai membangun mercu suar kebudayaan sendiri, (mungkin karena kita sibuk bertransaksi! )
• Meulaboh, 2008-2018
Taufik sentana.
Memilih setia pada kata kata sejak 1994. Banyak menulis puisi, ulasan dan esai sosial-budaya. Sedang menyiapkan antologi “Doa Dua Jiwa” secara independen.
Menetap di Aceh Barat sebagai guru dan bergiat di Rumah Atap Dunia. Pernah bergabung di FLP Aceh. Karyanya pernah terbit di portalsatu.com/, Harian Aceh, dan Serambi Indonesia.




